Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di wilayah Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat industri perikanan budi daya secara berkelanjutan, sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
“Program ini dirancang untuk memperkuat fondasi budi daya nasional dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” ujar Tb Haeru Rahayu dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (11/2).
Kawasan tersebut dikembangkan dengan konsep Integrated Shrimp Farming (ISF). Skema ini mengintegrasikan infrastruktur hulu hingga hilir dalam satu sistem produksi terpadu.
Fasilitas yang dibangun mencakup intake air laut, tandon utama, kolam budi daya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), fasilitas kawasan, penghijauan, hingga dukungan peralatan dan mesin produksi.
Total luas lahan yang disiapkan mencapai sekitar 2.150 hektare. Nilai investasi proyek ini ditaksir mencapai USD 500 juta atau setara Rp7,2 triliun.
Menurut Tb Haeru—yang akrab disapa Tebe—kawasan ini diproyeksikan menjadi model pengembangan tambak udang modern yang ramah lingkungan dan berdaya saing global.
Produktivitas ditargetkan mencapai 55 ton per hektare per siklus, dengan estimasi produksi tahunan sebesar 52.800 ton udang.
Ia menegaskan, orientasi pembangunan tidak semata pada peningkatan volume produksi. Aspek penguatan sumber daya manusia lokal dan pembukaan lapangan kerja menjadi bagian utama perencanaan.
Selain itu, penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) menjadi standar operasional kawasan guna memastikan keberlanjutan dan kualitas produksi.
Lokasi proyek berada di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.
Pada tahap awal, konstruksi telah berjalan dengan dukungan puluhan alat berat. Penyerapan tenaga kerja lokal disebut terus meningkat seiring progres pembangunan.
Sementara itu, Kepala Desa Palakahembi, Arif Maramba, menyampaikan dukungan atas dimulainya proyek tersebut. Ia menilai kawasan tambak terintegrasi berpotensi membuka ruang ekonomi baru di tingkat desa.
“Kami melihat ini sebagai peluang besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan masa depan generasi muda,” ujar Arif.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menetapkan udang sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor nasional.
Selain mendorong produktivitas pelaku usaha dan pembudi daya, KKP juga membangun kawasan modeling skala besar sebagai motor penggerak budi daya udang modern di Indonesia.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar