Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung (BSDK MA), Dr. Syamsul Arief, S.H., M.H., mengajak para redaktur portal media di lingkungan Mahkamah Agung untuk mengedepankan pemberitaan positif yang bersifat edukatif guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan.
Pernyataan tersebut disampaikan Syamsul Arief saat membuka materi "Propaganda Media dalam Pencitraan Lembaga" pada Workshop Pengembangan Kompetensi Jurnalistik bagi redaktur portal media di lingkungan Mahkamah Agung di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Kegiatan tersebut berlangsung pada 15–17 Juli 2026.
"Saya tidak setuju bad news is a good news, melainkan harus ditanamkan di hati para redaktur portal media online di lingkungan Mahkamah Agung bahwa good news is a good news, guna meningkatkan citra lembaga dan mengedukasi publik," ujar Syamsul Arief.
Media Dinilai Berperan Membentuk Persepsi Publik
Dalam paparannya, Syamsul mengatakan perkembangan komunikasi digital membuat batas antara informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan semakin tipis. Karena itu, media dituntut memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ia menyinggung teori propaganda yang dikembangkan Joseph Goebbels sebagai salah satu contoh penggunaan media massa untuk memengaruhi persepsi publik. Menurutnya, teori tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari kajian komunikasi agar media mampu membaca dinamika pembentukan opini di ruang publik.
Selain itu, Syamsul menilai media Mahkamah Agung memiliki peran strategis dalam membangun emosi positif dan empati masyarakat terhadap pelaksanaan tugas yudisial yang dijalankan hakim maupun aparatur peradilan.
"Melalui media online Mahkamah Agung dapat digerakkan emosi positif dan empati masyarakat terhadap pelaksanaan tugas yudisial yang telah dilakukan hakim dan aparatur peradilan lainnya," katanya.
Soroti Pengaruh Algoritma dan Media Digital
Syamsul juga menyinggung sejumlah fenomena komunikasi digital, seperti kasus Cambridge Analytica pada Pemilu Amerika Serikat 2016 serta pengaruh algoritma media sosial dalam pembentukan opini publik pada berbagai kontestasi politik.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa data, algoritma, dan pendekatan emosional memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi masyarakat sehingga perlu dipahami oleh pengelola media institusi.
Pada akhir paparannya, Syamsul menegaskan seluruh kanal media yang dimiliki Mahkamah Agung diharapkan mampu menyosialisasikan kebijakan lembaga dan pimpinan Mahkamah Agung yang berorientasi pada penegakan hukum yang berkeadilan serta penguatan integritas lembaga.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar