Universitas Nasional (UNAS) mengukuhkan Fadli Zon sebagai Profesor Kehormatan (Prof. Hon.) dalam Sidang Terbuka Senat Akademik, Auditorium UNAS, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Universitas Nasional mengukuhkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai Profesor Kehormatan dalam Sidang Terbuka Senat Akademik di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Pengukuhan Fadli Zon sebagai Profesor Kehormatan Universitas Nasional menjadi penegasan peran kebudayaan sebagai fondasi pembangunan peradaban Indonesia.
Pengukuhan ini merupakan penghargaan akademik tertinggi yang diberikan universitas atas dedikasi, pemikiran, dan kontribusi intelektual Fadli Zon di bidang kebudayaan, pendidikan, serta kehidupan kebangsaan.
Keputusan tersebut diambil melalui mekanisme akademik internal dengan kajian komprehensif atas rekam jejak, kepakaran, integritas, serta kontribusi yang diakui secara nasional dan internasional.
Rektor Universitas Nasional, El Amry Bermawi Putera, menegaskan bahwa penganugerahan Profesor Kehormatan bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan institusional atas dedikasi panjang di ranah kebudayaan.
Menurut dia, pengukuhan itu adalah pengakuan akademik atas konsistensi Fadli Zon dalam memperjuangkan sejarah, kebudayaan, dan jati diri bangsa di ruang publik maupun intelektual.
Ia juga menyebut nilai-nilai yang diperjuangkan Fadli Zon selaras dengan warisan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu pendiri Universitas Nasional.
Rektor berharap penganugerahan ini memperkuat sinergi antara dunia akademik dan negara dalam membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif serta berkelanjutan.
Orasi: Reinventing Indonesian Identity
Dalam orasi kebudayaan, Fadli Zon mengangkat gagasan reinventing Indonesian identity sebagai fondasi penguatan peradaban bangsa di tengah dinamika global.
Ia menekankan bahwa temuan arkeologis menunjukkan Nusantara telah memainkan peran penting dalam evolusi dan perjalanan panjang peradaban manusia.
Menurutnya, Indonesia tidak semata negara-bangsa modern, melainkan peradaban-bangsa yang berdiri di atas fondasi megadiversity etnis, bahasa, adat, dan tradisi.
Keberagaman tersebut, kata dia, justru menjadi kekuatan strategis dalam politik kebudayaan dunia.
Fadli Zon juga menegaskan kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Budaya, lanjutnya, berfungsi sebagai kompas moral sekaligus ruang solusi di tengah kompleksitas sosial, politik, dan ekonomi global.
Rekam Jejak Akademik dan Intelektual
Universitas Nasional mendasarkan keputusan ini pada rekam jejak Fadli Zon sebagai politisi-akademisi, intelektual, dan budayawan yang konsisten merawat memori kolektif bangsa.
Ia tercatat aktif sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia serta dosen tidak tetap di Universitas Nasional sejak 2018.
Produktivitas intelektualnya terwujud dalam lebih dari 40 buku dan berbagai karya tulis di bidang politik, kebudayaan, serta ekonomi kerakyatan.
Komitmennya juga terlihat melalui pendirian Fadli Zon Library, pengelolaan museum, dan rumah budaya yang menyelamatkan ribuan artefak serta naskah kuno.
Pengukuhan tersebut turut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzadi, Menteri Koordinator Zulkifli Hasan, Yusril Ihza Mahendra, Muhammad Qodari, Giring Ganesha, Arif Satria, anggota DPR RI, serta para duta besar negara sahabat.
Menutup orasinya, Fadli Zon menyampaikan terima kasih kepada pimpinan dan sivitas akademika Universitas Nasional atas kepercayaan dan kehormatan yang diberikan.
Ia kembali menegaskan bahwa kebudayaan adalah fondasi penting dalam membangun peradaban dan memperkokoh persatuan bangsa.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar