Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama DKI Jakarta resmi melantik jajaran pengurus wilayah masa khidmat 2025–2028 di Jakarta, Sabtu, 16 Mei 2026. Momentum ini dibingkai lewat tema “Transformasi Pelajar Jakarta: Merawat Akar Budaya, Mewujudkan Buah Karya”.
Pelantikan itu tidak hanya menjadi agenda seremonial organisasi pelajar Nahdlatul Ulama, tetapi juga ruang konsolidasi menghadapi tantangan pelajar perkotaan, mulai dari krisis akhlak hingga maraknya kasus bullying di lingkungan sekolah.
Ketua PW IPPNU DKI Jakarta terpilih, Fithri Farhana, mengatakan organisasi pelajar putri saat ini harus tetap relevan di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya digital.
“Hari ini bukan hanya tentang pergantian kepengurusan. Hari ini adalah tentang melanjutkan perjuangan dan memastikan IPPNU tetap relevan menjadi ruang tumbuh bagi pelajar putri,” ujar Fithri Farhana.
Ia menilai pelajar Jakarta perlu tumbuh mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan identitas keislaman. Karena itu, penguatan internal organisasi menjadi fokus awal kepengurusan baru.
Di sejumlah sekolah Jakarta, isu solidaritas antarpelajar memang makin terasa penting. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan sosial di media digital membuat banyak pelajar lebih mudah terisolasi meski terlihat aktif di media sosial.
IPPNU DKI Siapkan Layanan Aduan Bullying
Fithri mengaku prihatin terhadap maraknya kasus perundungan di kalangan pelajar. Menurut dia, organisasi tidak bisa hanya hadir dalam forum kaderisasi, tetapi juga perlu menyediakan ruang aman bagi pelajar perempuan.
Karena itu, PW IPPNU DKI Jakarta membentuk Lembaga Konseling Putri yang akan menyediakan layanan aduan dan pendampingan psikologis.
“Kita akan menyediakan call center atau layanan curhat untuk teman-teman pelajar yang mendapatkan bullying,” katanya.
Layanan itu akan dijalankan bersama lembaga perlindungan perempuan dan anak guna memperkuat pendampingan terhadap korban.
Saat ini, IPPNU DKI Jakarta telah tersebar di enam wilayah kota dan kabupaten administrasi dengan sekitar 35 pimpinan anak cabang tingkat kecamatan.
Jaga Budaya Betawi di Tengah Arus Global
Selain fokus pada isu sosial pelajar, IPPNU DKI Jakarta juga menyoroti pentingnya menjaga budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Fithri berharap pelajar Jakarta tetap memegang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menjaga nilai budaya Betawi agar tidak terkikis perkembangan zaman.
Ia juga meminta dukungan dari tokoh Nahdlatul Ulama dan pemerintah daerah agar organisasi pelajar memiliki ruang kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam pembinaan generasi muda Jakarta.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar