Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya membangun budaya sekolah aman dan nyaman melalui pendekatan pendidikan tanpa kekerasan di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (3/4/2026).
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak semata transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk karakter dan peradaban bangsa melalui praktik pembelajaran yang memuliakan manusia.
Sekolah Aman Nyaman Berbasis Karakter dan Nilai
Dalam dialog pendidikan bertema “Menata Fondasi Belajar”, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya penerapan nilai dalam kehidupan sekolah sehari-hari sebagai bagian dari hidden curriculum.
Menurutnya, budaya sekolah aman dan nyaman mencakup nilai, sikap, serta kebiasaan yang menjamin perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, hingga keamanan digital siswa.
“Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan ilmu,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya di hadapan ratusan kepala sekolah dan guru.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan karakter yang berkelanjutan, bukan sekadar penyampaian materi pelajaran di ruang kelas.
Pendekatan Pembelajaran dan Peran Guru
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pembelajaran perlu diarahkan pada pendekatan deep learning yang menekankan proses mindful, meaningful, dan joyful.
Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi memahami secara mendalam serta terlibat aktif dalam proses belajar.
“Kita ingin pembelajaran itu dipahami secara mendalam, bukan sekadar banyak materi,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa peran guru tidak berhenti sebagai pengajar, melainkan pembimbing yang mendampingi siswa secara akademik, sosial, dan emosional.
Selain itu, seluruh guru didorong berperan sebagai wali yang aktif memantau perkembangan siswa secara menyeluruh.
Disiplin Tanpa Kekerasan dan Solusi Dialogis
Dalam membangun disiplin, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendekatan edukatif tanpa kekerasan sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.
Menurutnya, pembiasaan nilai seperti disiplin, sopan santun, dan saling menghargai lebih efektif ditanamkan melalui keteladanan dibanding hukuman fisik.
“Disiplin harus dibangun tanpa kekerasan, tetapi dengan pendekatan yang membuat siswa sadar dan berubah,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap persoalan di sekolah sebaiknya diselesaikan melalui dialog antara pihak sekolah dan orang tua guna menjaga hubungan yang konstruktif.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar