Lonjakan serangan siber di Indonesia mulai mengubah cara perusahaan menjaga sistem digital mereka. Di tengah meningkatnya ancaman berbasis kecerdasan buatan atau AI, PT FPT Metrodata Indonesia (FMI) bersama HP Indonesia meluncurkan SecBox, solusi keamanan siber terintegrasi yang menyasar usaha kecil dan menengah (UKM).
Peluncuran dilakukan di Jakarta, Kamis, 20 Mei 2026, saat tekanan terhadap sektor digital nasional terus membesar. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 1,52 miliar insiden siber terjadi sejak Januari hingga pertengahan April tahun ini. Angka itu memperlihatkan serangan digital bukan lagi ancaman abstrak, melainkan risiko bisnis sehari-hari.
UKM Mulai Jadi Target Baru Serangan Siber
Selama ini, banyak pelaku usaha kecil menganggap keamanan siber hanya kebutuhan perusahaan besar. Padahal, pola serangan mulai bergeser. Peretas justru memburu bisnis dengan sistem keamanan lemah dan respons lambat.
Seorang pemilik perusahaan distribusi di Jakarta Selatan pernah bercerita, email palsu yang tampak biasa nyaris membuat data pelanggan mereka bocor. Serangannya sederhana, tetapi dampaknya bisa panjang. Dari situ, perusahaan mulai sadar biaya pemulihan sering kali lebih mahal dibanding investasi keamanan sejak awal.
FMI melihat celah itu sebagai kebutuhan pasar yang terus tumbuh. Presiden Direktur PT FPT Metrodata Indonesia, Edwin Putraoetama Octosa, mengatakan banyak perusahaan masih kesulitan membangun sistem pengawasan keamanan digital karena terbentur biaya dan keterbatasan sumber daya.
“Melalui SecBox, kami tidak sekadar meluncurkan produk, kami membangun kepercayaan bahwa setiap organisasi di Indonesia dari skala apa pun, berhak atas keamanan digital yang tangguh,” ujar Edwin.
Ancaman Berbasis AI Dinilai Makin Sulit Dideteksi
SecBox mengintegrasikan sejumlah layanan keamanan dalam satu platform, mulai dari Endpoint Detection and Response (EDR), SIEM/XDR, threat monitoring, hingga layanan Security Operations Center (SOC) selama 24 jam.
HP Indonesia mendukung sistem itu melalui HP Wolf Security yang dirancang memperkuat perlindungan perangkat kerja harian. Presiden Direktur HP Indonesia, Juliana Cen, menilai ancaman berbasis AI membuat pola serangan makin cepat dan sulit dikenali.
“Bagi usaha kecil dan menengah, satu insiden saja dapat menimbulkan dampak finansial yang serius,” kata Juliana.
Di sisi lain, banyak perusahaan menengah belum mampu membangun SOC mandiri karena investasi infrastruktur dan tenaga ahli masih mahal. Situasi itu membuka ruang bagi layanan keamanan berbasis langganan yang lebih fleksibel.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk, Susanto Djaja, mengatakan keamanan siber kini sudah menjadi bagian penting strategi bisnis perusahaan, bukan lagi sekadar pelengkap transformasi digital.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar