Peringatan Isra Mi’raj menjadi momentum spiritual penting untuk meneguhkan integritas dan profesionalisme aparatur peradilan dalam menjaga keadilan, moralitas, dan kepercayaan publik.
Peringatan Isra Mi’raj menghadirkan refleksi mendalam bagi aparatur peradilan untuk memperkuat komitmen integritas dan profesionalisme sebagai fondasi utama dalam menegakkan hukum dan keadilan.
Peristiwa agung perjalanan Nabi Muhammad SAW mengajarkan keteguhan moral, kejujuran, dan tanggung jawab, nilai universal yang relevan diterapkan dalam tugas peradilan modern di Indonesia.
Dalam konteks peradilan nasional, tuntutan untuk melangkah bersih menjadi keniscayaan, mengingat aparat peradilan memegang peran strategis dalam menjaga keadilan dan kepercayaan masyarakat.
Setiap keputusan hukum menuntut kejernihan nurani, bebas dari kepentingan pribadi, tekanan eksternal, serta praktik menyimpang yang mencederai etika dan martabat institusi peradilan.
Nilai Isra Mi’raj menjadi landasan spiritual agar aparatur peradilan menjaga ketulusan niat, konsistensi sikap, dan integritas moral dalam setiap proses penegakan hukum.
Integritas dipahami bukan sekadar kepatuhan prosedural, melainkan keberanian mengambil keputusan benar meski menghadapi tekanan kekuasaan, opini publik, atau kepentingan ekonomi tertentu.
Kejujuran, objektivitas, dan tanggung jawab menjadi pilar utama agar lembaga peradilan tetap dipercaya sebagai benteng terakhir pencari keadilan masyarakat.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan penuh ujian mengajarkan konsistensi antara ucapan dan tindakan, sebuah prinsip yang harus melekat pada setiap aparatur peradilan.
Profesionalisme turut menjadi unsur krusial, mencakup kecakapan teknis, ketepatan putusan, disiplin kerja, serta kemampuan menyeimbangkan hukum positif dan nilai keadilan sosial.
Aparatur peradilan dituntut menghadirkan keputusan yang tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga adil secara moral dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Profesionalisme yang dijalankan dengan niat bersih menciptakan pelayanan hukum yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan keadilan substantif.
Integritas dan profesionalisme saling menguatkan, membentuk fondasi kokoh bagi peradilan yang bersih, berwibawa, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Momentum Isra Mi’raj juga menjadi ajakan refleksi diri bagi aparatur peradilan untuk menilai sejauh mana nilai-nilai tersebut telah diterapkan secara konsisten.
Introspeksi berkelanjutan diperlukan agar prinsip integritas tidak berhenti sebagai slogan, melainkan tercermin nyata dalam setiap keputusan dan tindakan hukum.
Perjalanan Isra Mi’raj mengingatkan bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi moral, sebagaimana setiap putusan hukum membawa dampak langsung bagi kehidupan manusia.
Pelajaran tentang surga dan neraka dalam Isra Mi’raj mengandung pesan kuat mengenai akibat dari perbuatan baik dan buruk, relevan dalam etika profesi peradilan.
Keputusan adil dan profesional akan melahirkan kepercayaan publik, sementara keputusan ceroboh atau berpihak dapat merusak legitimasi institusi peradilan.
Dalam Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan berbagai golongan manusia beserta balasan amalnya, mengandung hikmah moral bagi penyelenggara keadilan.
Nilai disiplin, kejujuran, dan kepedulian sosial tercermin dari golongan yang mendapat balasan kebaikan, mengajarkan pentingnya konsistensi dalam tugas.
Sebaliknya, perilaku menyimpang seperti keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan menjadi peringatan keras bagi aparatur peradilan.
Profesionalisme menuntut kehati-hatian dalam tutur kata, ketepatan pertimbangan hukum, serta keberanian menolak praktik yang merusak etika dan nurani.
Konsistensi antara ucapan dan tindakan menjaga kehormatan institusi, mencegah fitnah, provokasi, dan degradasi kepercayaan publik terhadap peradilan.
Isra Mi’raj menjadi cermin moral agar aparatur peradilan senantiasa menjaga fitrah, akal sehat, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama.
Kisah Nabi memilih susu dibanding arak mengajarkan pentingnya memilih jalan yang menjaga kejernihan akal dan kemurnian moral dalam setiap keputusan.
Bagi peradilan, hikmah tersebut relevan sebagai pedoman memilih keadilan substantif dibanding kepentingan sesaat yang merusak integritas institusi.
Dengan meneladani nilai Isra Mi’raj, aparatur peradilan diharapkan menjadi pelaku keadilan yang humanis, profesional, dan bermartabat.
Peringatan Isra Mi’raj menegaskan langkah bersih, profesional, dan berintegritas adalah kunci menghadirkan peradilan yang adil, bermartabat, serta dipercaya masyarakat.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar