Deklarasi Partai Gema Bangsa di Jakarta menjadi penanda babak baru politik nasional, membawa janji kemandirian, keadilan sosial, dan perlawanan terhadap praktik mahar kekuasaan.
Jakarta International Convention Center menjadi saksi deklarasi Partai Gema Bangsa, Sabtu, 17 Januari 2026, saat Ahmad Rofiq secara resmi mengumumkan kelahiran partai dengan visi perubahan politik nasional.
Deklarasi ini menjawab apa dan mengapa Partai Gema Bangsa hadir, dipimpin Ketum Ahmad Rofiq, sebagai respons atas politik transaksional, sentralisasi kekuasaan, dan kegelisahan publik terhadap oligarki.
Ahmad Rofiq menegaskan komitmen mengakhiri politik mahar dan menguatkan desentralisasi, menempatkan daerah sebagai pusat pengambilan keputusan demi keadilan sosial dan demokrasi yang lebih substantif.
“Partai ini bukan milik saya, melainkan milik seluruh struktur dari desa hingga pusat,” ujar Ahmad Rofiq, menekankan kedekatan emosional dengan kader daerah dan akar rumput.
Ia menyoroti kemandirian ekonomi sebagai fondasi bangsa, mendorong petani berdaulat atas tanah, nelayan atas laut, serta UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional berkeadilan.
“Kemandirian berarti berdiri tegak tanpa didikte,” ucap Ahmad Rofiq, sembari menyerukan bank tanah, swasembada pangan, penguatan teknologi nelayan, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan.
Gema Bangsa juga mengusung politik hijau, menginstruksikan kader menanam pohon di setiap rumah, serta membuka ruang luas bagi generasi muda dan perempuan sebagai pelaku perubahan.
Deklarasi Partai Gema Bangsa menandai harapan baru demokrasi Indonesia, menawarkan politik bermoral, berakar di daerah, dan berorientasi pada keadilan serta kemandirian bangsa.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar