Buku Xi Jinping: Emperor of the Red Dragon karya Daniel D. Lee menyajikan gambaran komprehensif mengenai perjalanan hidup, konsolidasi kekuasaan, serta dampak kepemimpinan Xi Jinping terhadap Tiongkok dan dunia.
Melalui pendekatan historis dan politik, buku ini menjelaskan bagaimana kepemimpinan Xi Jinping dan transformasi Tiongkok modern menjadi salah satu fenomena paling berpengaruh dalam geopolitik abad ke-21.
Xi Jinping lahir di Beijing pada 15 Juni 1953 sebagai putra Xi Zhongxun, tokoh senior Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sebagai bagian dari kelompok elite politik yang dikenal sebagai princelings, Xi tumbuh dalam lingkungan kekuasaan.
Namun masa mudanya diwarnai gejolak Revolusi Kebudayaan ketika ayahnya tersingkir dari lingkaran kekuasaan. Pada usia 15 tahun, Xi dikirim ke desa terpencil Liangjiahe untuk menjalani kerja paksa selama tujuh tahun, pengalaman yang disebut membentuk karakter dan pandangan politiknya.
Dari Kader Daerah ke Pemimpin Tertinggi
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Tsinghua dan bergabung dengan PKT pada 1974, Xi meniti karier politik secara bertahap. Ia pernah menduduki sejumlah posisi penting di Hebei, Fujian, Zhejiang, hingga Shanghai sebelum akhirnya dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PKT pada 2012.
Di bawah kepemimpinannya, model pemerintahan yang sebelumnya lebih kolektif berubah menjadi lebih terpusat. Langkah tersebut diperkuat dengan penghapusan batas masa jabatan presiden pada 2018. Xi juga memperkenalkan konsep China Dream atau Impian Tiongkok serta Xi Jinping Thought yang kemudian dimasukkan ke dalam konstitusi partai.
Transformasi Ekonomi dan Penguatan Teknologi
Buku ini menjelaskan bagaimana Tiongkok berupaya beralih dari ekonomi berbasis manufaktur murah menuju ekonomi yang ditopang inovasi dan teknologi tinggi. Melalui program seperti Made in China 2025, Beijing menargetkan posisi terdepan dalam kecerdasan buatan, teknologi 5G, komputasi kuantum, dan bioteknologi.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut dibarengi tantangan berupa tingginya utang korporasi, pemerintah daerah, dan rumah tangga yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi jangka panjang.
Sorotan HAM dan Ketegangan Global
Di bidang domestik, pemerintahan Xi memperluas penggunaan teknologi pengawasan, memperketat kontrol internet, serta menerapkan berbagai kebijakan yang memicu kritik internasional terkait hak asasi manusia. Isu Xinjiang, Tibet, Hong Kong, dan pembatasan kebebasan sipil menjadi perhatian sejumlah negara Barat.
Pada saat yang sama, Tiongkok memperluas pengaruh global melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI), mempertegas klaim di Laut Tiongkok Selatan, serta mempertahankan sikap tegas terhadap Taiwan. Hubungan dengan Amerika Serikat juga semakin kompetitif dalam bidang perdagangan, teknologi, dan pengaruh geopolitik.
Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan Xi Jinping sebagai figur yang berhasil memperkuat posisi Tiongkok sebagai kekuatan global, namun juga menghadapi kritik terkait sentralisasi kekuasaan, pengawasan negara, dan meningkatnya ketegangan internasional. Warisan kepemimpinannya dipandang akan menjadi salah satu faktor penentu arah politik dan ekonomi dunia pada dekade mendatang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar