Awal 2025, rumah lelang Christie's di New York meraup lebih dari $700.000 dari penjualan karya buatan kecerdasan buatan (AI). Namun, kesuksesan komersial ini seketika memicu protes keras dari 6.000 pembuat karya asli terkait pelanggaran hak cipta. Insiden ini menyoroti tajamnya polemik etika komersialisasi karya seni AI di tengah disrupsi teknologi pada industri kreatif global.
Penolakan masif ini bersumber dari keresahan riil para pekerja kreatif. Ionela Bara, peneliti pascadoktoral bidang neuroestetika di laboratorium Social Brain Sciences, ETH Zurich, mengungkapkan bahwa semakin publik mengerti cara kerja mesin AI, semakin tinggi resistensi moral yang muncul terhadap karya tersebut.
"Orang belum memiliki reaksi penolakan spontan terhadap seni AI. Resistensi moral adalah sesuatu yang mereka pelajari seiring berjalannya waktu," ujar Bara, menjelaskan hasil risetnya.
Eksploitasi Data dan Hak Cipta
Melalui serangkaian eksperimen yang melibatkan ratusan partisipan, Bara dan timnya menguji respons publik terhadap gambar yang diproduksi oleh program DALL-E 3.
Ketika partisipan diberi pemahaman tentang cara kerja AI art—yang melatih algoritmanya menggunakan kumpulan data raksasa dari karya berhak cipta tanpa izin penciptanya, seperti meniru gaya pelukis Impresionis Joaquin Sorolla—tingkat penerimaan moral masyarakat langsung anjlok.
Praktik eksploitasi dataset inilah yang menjadi inti penolakan seniman terhadap AI. Para kreator menilai raksasa teknologi tengah mendulang profit dari tenaga kreatif yang tidak dikompensasi. Fenomena serupa juga melanda industri literasi, di mana para penulis menggugat perusahaan pengembang model bahasa besar yang menggunakan tulisan mereka tanpa persetujuan.
Dampak AI bagi pekerja kreatif kini bukan lagi sebatas ancaman otomatisasi kerja, melainkan perampasan hak kekayaan intelektual secara sistematis.
Transparansi Menentukan Masa Depan Seni
Menariknya, riset tersebut juga mencatat bahwa mengetahui tingginya nilai jual finansial sebuah karya AI tidak serta-merta membuat masyarakat menoleransi proses pembuatannya. Secara estetika visual, karya AI mungkin tetap memanjakan mata, tetapi nilai moralnya telah cacat di mata publik yang teredukasi.
"Secara keseluruhan, ketika orang mengetahui bagaimana AI beroperasi, mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menilai keadilan moralnya," tegas Bara.
Ke depannya, transparansi terkait sumber data dan operasional teknologi wajib ditegakkan. Langkah pelaporan yang jujur menjadi kunci krusial agar etika komersialisasi karya seni AI dapat diselaraskan, memberikan ruang bagi kemajuan teknologi tanpa harus mengorbankan mata pencaharian dan kredibilitas para pembuat karya asli.
Reporter Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar