Dokter dan pakar kesehatan metabolik, Dr. Robert Lustig, kembali mengingatkan bahaya konsumsi gula berlebih bagi kesehatan. Ia menyoroti bagaimana gula, terutama fruktosa, berkontribusi pada penyakit kronis yang kini makin sering ditemukan di berbagai negara.
Pernyataan ini relevan di tengah meningkatnya kasus diabetes tipe 2, obesitas, hingga gangguan hati, yang sebagian besar dipicu pola makan tinggi gula dan makanan olahan.
Konsumsi Gula Berlebih dan Gangguan Metabolisme
Dr. Robert Lustig menilai anggapan “semua kalori itu sama” tidak sepenuhnya tepat. Ia menjelaskan, fruktosa diproses berbeda dalam tubuh dan cenderung membebani organ hati.
Menurutnya, konsumsi gula berlebih dapat memicu gangguan metabolisme yang berujung pada penyakit seperti diabetes tipe 2 dan perlemakan hati.
Saya sempat berbincang dengan seorang dokter umum di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia menyebut pasien usia 30-an dengan fatty liver kini bukan hal langka, sesuatu yang dulu lebih identik dengan usia lanjut.
Selain itu, paparan gula berlebih juga dikaitkan dengan resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh kurang responsif terhadap hormon insulin, sehingga kadar gula darah sulit dikendalikan.
Peran Makanan Olahan dan Dampaknya
Dr. Robert Lustig juga menyoroti tingginya kandungan gula tersembunyi dalam makanan ultra-proses. Banyak produk kemasan mengandung gula dengan berbagai istilah yang tidak selalu disadari konsumen.
Kondisi ini membuat asupan gula harian sering kali melampaui batas tanpa disadari. Dampaknya terasa perlahan, mulai dari kelelahan, peningkatan berat badan, hingga risiko penyakit kronis.
Pengalaman pribadi saat meliput isu kesehatan beberapa tahun lalu juga menunjukkan hal serupa. Banyak keluarga baru menyadari pola makan tidak sehat setelah muncul diagnosis penyakit serius.
Ia menekankan pentingnya pendekatan pencegahan, bukan sekadar pengobatan. Edukasi publik dinilai masih kurang kuat dibanding promosi produk makanan tinggi gula.
“Masalah ini bukan hanya soal individu, tetapi juga sistem yang membentuk pola konsumsi masyarakat,” ujar Dr. Robert Lustig dalam berbagai kesempatan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar