Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta kembali mempertahankan posisi 10 besar layanan imigrasi bandara terbaik dunia versi Skytrax pada 2026. Capaian itu menjadi tahun kedua berturut-turut setelah penghargaan serupa diraih pada 2025.
Pengakuan internasional tersebut diperoleh dari survei independen terhadap penumpang internasional yang melintas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, khususnya dalam layanan Makkah Route. Penilaian dilakukan langsung oleh Skytrax tanpa pemberitahuan kepada pihak imigrasi.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, Galih Priya Kartika Perdhana, mengatakan pencapaian itu lahir dari konsistensi transformasi digital pelayanan keimigrasian.
“Namun demikian, ini bukan pertama kalinya karena di tahun 2025 kita juga mendapatkan Skytrax peringkat 10 besar dunia. Dan di tahun 2026 juga peringkat 10 besar dunia,” ujar Galih pada Minggu, 17 Mei 2026.
Autogate Jadi Tulang Punggung Layanan Imigrasi
Galih menjelaskan, optimalisasi autogate menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat pemeriksaan keimigrasian di terminal internasional. Proses yang sebelumnya dilakukan manual kini beralih ke sistem otomatis.
“Yang membuat itu achievable, pertama, Rekan-rekan sekalian bisa melihat bagaimana mungkin saat ini didominasi oleh autogate,” kata Galih.
Bagi penumpang internasional, perubahan itu terasa cukup signifikan. Seorang pelaku perjalanan bisnis yang rutin terbang Jakarta–Singapura pernah bercerita, antrean pemeriksaan imigrasi yang dulu bisa memakan waktu panjang kini jauh lebih cepat, terutama saat jam sibuk pagi.
Meski demikian, layanan pemeriksaan manual tetap disiapkan bagi pemegang paspor non-elektronik atau dokumen tertentu yang belum dapat dipindai otomatis.
Platform Digital Terintegrasi Pangkas Proses Berlapis
Selain autogate, Imigrasi Soekarno-Hatta juga mengintegrasikan sistem deklarasi melalui platform digital All Indonesia. Sebelumnya, proses clearance dilakukan terpisah antara imigrasi, bea cukai, karantina, dan kesehatan.
“Nah, saat ini digabung menjadi satu single platform dan itu digital. Artinya tidak lagi diisi menggunakan kertas,” ujar Galih.
Langkah integrasi itu dinilai membantu mempercepat arus penumpang internasional sekaligus mengurangi tumpang tindih proses administrasi di bandara.
Ke depan, Imigrasi Soekarno-Hatta juga menyiapkan implementasi Seamless Corridor Gate untuk mendukung pelayanan jemaah haji dan penumpang tertentu agar proses kedatangan lebih singkat.
Capaian Skytrax ini menjadi indikator bahwa layanan publik sektor keimigrasian Indonesia mulai mampu bersaing di level global, terutama dalam aspek digitalisasi, efisiensi, dan kenyamanan pengguna jasa.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar