Nina Nugroho CEO Nina Nugroho International
Nina Nugroho memaparkan konsep Leadership in Fashion dalam workshop kepemimpinan yang digelar Netralnews.com di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
CEO Nina Nugroho International itu membuka sesi dengan satu pernyataan tegas: brand yang kuat tidak lahir dari pakaian bagus semata, tetapi dari pemimpin yang berani melihat lebih tinggi.
Berbekal pengalaman sejak 2010 di industri fashion dan riset doktoral bidang Leadership in Communication Strategy, Nina menekankan bahwa industri ini sedang tidak baik-baik saja.
“Fashion itu dinamis, cepat, dan penuh turbulensi. Kalau pemimpinnya tidak adaptif, brand hanya akan berjalan di landasan,” ujarnya.
Industri Fashion: Cepat Berubah, Ketat Bersaing
Nina memetakan tiga tantangan besar industri fashion hari ini.
Pertama, perubahan tren yang bergerak sangat cepat. Media sosial mempercepat siklus mode hingga hitungan detik. Apa yang tampil di New York bisa langsung memengaruhi preferensi pasar di Indonesia.
Kedua, kompetisi yang semakin agresif. Bukan lagi soal brand besar melawan kecil, melainkan brand gesit melawan brand lambat.
Ia mengutip data riset internal: dari 100 persen konsumen fashion, sekitar 70 persen akan “berbelanja” melihat brand lain sebelum memutuskan membeli kembali. Peluang repurchase hanya 30 persen.
Ketiga, tekanan harga dan algoritma. Produk global murah, barang bekas, hingga thrift dan reuse ikut menggerus pasar. Algoritma media sosial mempercepat perbandingan harga dan visual, membuat loyalitas mudah goyah.
Boss atau Leader?
Di tengah lanskap itu, Nina membedakan tipis antara “boss” dan “leader”.
Model kepemimpinan berbasis senioritas dan instruksi satu arah, menurutnya, tak lagi relevan. Industri kreatif seperti fashion membutuhkan pendekatan berbeda.
Generasi muda tidak sekadar ingin disuruh. Mereka ingin tahu arah akhir.
“Anak sekarang perlu tahu ujungnya apa. Kenapa mereka melakukan sesuatu,” kata Nina.
Ia menyebut peran pemimpin seperti pilot: menentukan arah terbang, membaca cuaca, dan menenangkan penumpang saat turbulensi datang.
Dalam konteks bisnis, turbulensi itu bisa berupa penjualan turun, produk ditiru kompetitor, atau pasar dibanjiri barang impor murah.
Transparansi menjadi kunci. Tim perlu memahami risiko, skenario, dan langkah mitigasi.
Big Picture dan Berani Beda
Menurut Nina, brand fashion bukan menjual baju, melainkan identitas.
Karena itu, pemimpin harus berpikir dalam kerangka tiga hingga lima tahun ke depan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Ia mencontohkan langkah Nina Nugroho pada 2016 yang fokus pada busana kerja perempuan profesional. Saat itu, segmen tersebut belum tergarap spesifik.
“Itu create the trend, bukan follow the trend,” ujarnya.
Keberanian mengambil posisi unik memang berisiko. Namun tanpa diferensiasi, brand akan tenggelam di tengah arus.
Tiga Model Kepemimpinan Relevan
Nina menggarisbawahi tiga pendekatan kepemimpinan yang dinilai relevan saat ini.
Pertama, Agile Leadership: cepat beradaptasi, berani bereksperimen, dan melakukan evaluasi bertahap.
Kedua, Empowering Leadership: memberi ruang pada tim, termasuk desainer muda dan intern, untuk berpendapat dan memegang tanggung jawab koleksi.
Ketiga, Authentic Leadership: jujur, konsisten, dan berani mengakui kesalahan.
“Kepemimpinan bukan jabatan. Itu tindakan,” katanya.
Ia menutup sesi dengan penegasan bahwa produk terbaik sekalipun tidak akan terbang tanpa kepemimpinan yang tepat.
Tanpa visi, keberanian, dan empati, brand hanya akan berhenti di landasan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











Tidak ada komentar:
Posting Komentar