Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah menyusun kesepakatan baru yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari di kawasan Timur Tengah.
Laporan itu pertama kali diungkap media Amerika Serikat, Axios, yang mengutip pejabat AS terkait isi draf nota kesepahaman antara Washington dan Teheran. Hingga Senin, 25 Mei 2026, kedua negara belum memberikan konfirmasi resmi.
Kesepakatan tersebut muncul setelah ketegangan kawasan meningkat sejak akhir Februari lalu. Penutupan Selat Hormuz saat itu sempat mengguncang jalur perdagangan energi dunia karena banyak kapal minyak tertahan.
Saya masih ingat bagaimana pasar global beberapa tahun lalu langsung bergejolak hanya karena ancaman kecil di Selat Hormuz. Jalur laut itu memang bukan sekadar lintasan kapal, melainkan salah satu urat nadi ekonomi dunia.
Draft Kesepakatan Iran-AS Bahas Selat Hormuz dan Minyak
Menurut laporan Axios, Iran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz dan membersihkan ranjau laut di wilayah tersebut.
Teheran juga dikabarkan akan mengizinkan kapal internasional melintas tanpa pungutan tambahan selama masa perpanjangan gencatan senjata berlangsung.
Sebagai gantinya, Amerika Serikat disebut siap melonggarkan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran, termasuk membuka kembali akses penjualan minyak dalam batas tertentu.
Seorang pejabat AS menggambarkan pola itu sebagai “bantuan berdasarkan kinerja”. Artinya, pelonggaran ekonomi baru diberikan setelah Iran menjalankan komitmen dalam kesepakatan.
Laporan The New York Times menyebut draf tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Program Nuklir Iran Masuk Dalam Negosiasi
Tak hanya soal perdagangan minyak dan keamanan maritim, pembahasan juga menyentuh program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama.
Dalam draft itu, Iran disebut bersedia menegosiasikan penghentian sementara pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium dengan kadar tinggi.
Namun, pencabutan sanksi lebih luas disebut baru akan dibahas jika kesepakatan final benar-benar tercapai dan lolos verifikasi internasional.
Negosiasi ini juga dikaitkan dengan upaya meredakan konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon. Selama masa gencatan senjata, pasukan AS di Timur Tengah dilaporkan tetap bertahan di posisinya.
Proses diplomatik tersebut mendapat dukungan sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab. Pakistan disebut menjadi salah satu mediator penting dalam pembicaraan kedua pihak.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2026/5/24/us-iran-inch-closer-to-deal-to-end-the-war-what-to-know










Tidak ada komentar:
Posting Komentar