Kenaikan harga gas nonsubsidi, lonjakan harga bahan bakar minyak, hingga meningkatnya biaya kebutuhan harian mulai memunculkan kecemasan baru di tengah masyarakat. Namun di saat yang sama, pusat perbelanjaan tetap ramai, restoran baru terus bermunculan, dan aktivitas konsumsi terlihat berjalan normal.
Kontras itu memunculkan pertanyaan besar: apakah ancaman krisis ekonomi memang belum terasa, atau justru masyarakat sedang masuk dalam kondisi “boiling frog syndrome”, yakni situasi ketika ancaman datang perlahan tetapi gagal disadari sejak awal.
Fenomena tersebut menjadi sorotan di tengah klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I 2026. Angka itu bahkan disebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi China. Namun, di balik data makro yang terlihat positif, muncul kekhawatiran soal menurunnya kepekaan terhadap perubahan.
Krisis Besar Sering Datang Diam-Diam
Pendiri IKEA, Ingvar Kamprad, pernah mengingatkan bahwa rasa puas diri menjadi racun paling berbahaya bagi organisasi. Sejarah bisnis menunjukkan banyak perusahaan besar runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan terlambat membaca perubahan.
Kodak misalnya, gagal beradaptasi dengan fotografi digital meski menjadi salah satu penemunya. Sementara Blockbuster terlambat memahami perubahan perilaku konsumen di industri hiburan. Nasib serupa dialami BlackBerry yang pernah mendominasi pasar ponsel profesional.
Mereka memiliki modal besar, teknologi, dan tenaga ahli. Namun, perusahaan-perusahaan itu kehilangan sense of crisis atau kepekaan terhadap ancaman yang tumbuh perlahan.
Penulis dan konsultan kepemimpinan Michelle Gibbings menyebut rasa puas diri tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan hingga dianggap normal. Situasi itu membuat standar kerja turun tanpa disadari.
Relevansi Tidak Bisa Disimpan
Ancaman complacency tidak hanya menghantam perusahaan, tetapi juga individu. Banyak profesional berhenti belajar ketika merasa posisi dan kenyamanannya sudah aman.
Profesor psikologi sosial David Dunning mengatakan, “Jika tidak kompeten, Anda tidak akan menyadari bahwa Anda tidak kompeten.” Pernyataan itu menggambarkan bagaimana seseorang bisa tertinggal tanpa menyadarinya.
Sementara itu, profesor kepemimpinan John Kotter menilai perubahan dunia bergerak lebih cepat dibanding kemampuan organisasi beradaptasi. Menurut dia, sense of crisis bukan berarti hidup dalam kepanikan, melainkan kesadaran untuk terus belajar dan berubah.
Dalam dunia kerja modern, relevansi tidak bisa disimpan seperti tabungan. Ketika organisasi dan individu berhenti mempertanyakan dirinya sendiri, kemunduran sebenarnya sudah dimulai, meski belum terlihat di permukaan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar