Banyak orang mengira sulit mengatur uang karena boros atau kurang disiplin. Namun, masalahnya lebih dalam: tubuh menyimpan trauma finansial.
Pola ini sering terbentuk sejak kecil. Dari ibu yang stres saat belanja, ucapan "jangan boros", hingga rasa bersalah ketika meminta sesuatu, semua terekam dalam saraf.
Lama-kelamaan, sistem saraf belajar mengaitkan uang dengan bahaya. Hasilnya, muncul panic spending, freeze saat dapat rezeki besar, atau kerja keras tanpa merasa cukup.
Ahli menjelaskan, mengubah hubungan dengan uang bukan hanya strategi finansial. Dibutuhkan rasa aman dalam tubuh untuk mereset pola saraf bawah sadar.
Fenomena ini tampak nyata dalam kehidupan banyak orang. Gaji masuk memang memberi lega sementara, tetapi cepat hilang lalu muncul kepanikan finansial kembali.
Sistem saraf yang belum pulih tetap aktif dalam mode bertahan hidup. Bukannya tenang, tubuh justru memicu impulsif, overwork, atau freeze menghadapi uang masuk.
Kalimat yang ditanamkan orang tua, seperti "hidup harus hemat", membentuk blueprint bawah sadar. Akhirnya, uang sering dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sarana keamanan.
Luka dari ibu tidak dimaksudkan menyalahkan, melainkan memahami warisan emosional. Pola itu terus hidup dalam cara mencari, menyimpan, hingga menggunakan uang.
Ketika sistem saraf overaktif, orang bekerja keras tetapi uang bocor. Saat freeze, muncul rasa takut menerima rezeki besar dan enggan meningkatkan harga jasa.
Solusinya bukan hanya perencanaan finansial, melainkan healing batin. Inner child healing dan regulasi saraf dibutuhkan agar relasi dengan uang kembali sehat dan stabil.
Dengan tubuh merasa aman, strategi finansial apa pun bisa lebih efektif. Bukan sekadar mengejar kekayaan, melainkan menemukan ketenangan dan rasa cukup dalam diri.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar