Kasus penculikan anak terbesar di China akhirnya terungkap setelah korban sendiri berhasil membongkar kejahatan yang menghantui selama puluhan tahun.
Seorang wanita bernama Yang Niuhua dari Provinsi Guizhou diculik saat berusia lima tahun pada 1995. Pelakunya ternyata tetangga sekaligus penculik berantai.
Pelaku bernama Yu Huaying diketahui menculik 17 anak dari 12 keluarga sejak awal 1990. Aksi kriminalnya baru terbongkar setelah Niuhua mencari kebenaran.
Awalnya, Niuhua dijual seharga 3.500 yuan kepada seorang pria tunawicara di Provinsi Hebei. Namanya diganti menjadi Li Suyan.
Namun kehidupan barunya penuh penderitaan. Ia kerap dipukul orang tua angkat, putus sekolah di usia 13 tahun, dan dipaksa bekerja sejak remaja.
Meski demikian, ingatan masa kecilnya tidak hilang. Ia selalu teringat dipanggil Niuhua oleh ibunya dalam mimpi, meneguhkan keyakinan bahwa dirinya bukan anak kandung.
Takdir kemudian mempertemukan kembali Niuhua dengan saudara kandungnya melalui aplikasi Douyin pada April 2021. Saat itu ia sudah menikah dan punya tiga anak.
Sayangnya, orang tua kandungnya telah meninggal bertahun-tahun lalu akibat depresi pasca penculikannya. Fakta ini membuat Niuhua bertekad mencari keadilan.
Ia mengumpulkan bukti, menemukan perantara penjual anak, dan berhasil menghadirkan saksi penting. Laporan Niuhua memicu korban lain ikut bersuara.
Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis mati kepada Yu Huaying. Kasus ini tercatat sebagai salah satu penculikan terbesar yang mengguncang China antara 1990–2003.
Kisah tragis sekaligus heroik ini menunjukkan bahwa keadilan mungkin tertunda, tetapi kebenaran pada akhirnya selalu menemukan jalannya.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar