Banyak anak tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup di mata ibunya. Fenomena ini sering terkait dengan pola anxious attachment.
Anxious attachment bukan berarti ibu tidak sayang. Justru rasa cinta besar sering hadir, tetapi disertai kecemasan berlebihan yang membuat anak merasa bingung dan tidak stabil.
Dalam teori keterikatan John Bowlby dan Mary Ainsworth, anak butuh secure base. Namun, ibu dengan anxious attachment memberi respons berlebihan dan fluktuatif.
Kadang mereka sangat hangat, kadang justru panik berlebihan. Akibatnya, anak tidak tahu apakah ibu akan hadir menenangkan atau malah menambah kecemasan.
Anak juga cenderung menyerap kecemasan ibunya. Seperti spons emosional, mereka ikut menyerap hypervigilance, overthinking, hingga membentuk pola pikir khawatir terhadap banyak hal.
Psikologi sosial menyebut fenomena ini sebagai emotional contagion, yaitu penularan emosi. Anak tumbuh mudah khawatir, membayangkan skenario terburuk, dan sulit merasa aman.
Selain itu, ibu yang anxious sering tidak memberi ruang anak mengelola emosinya. Setiap kesedihan langsung diintervensi, tanpa kesempatan anak belajar menenangkan diri.
Kondisi ini membuat anak sulit mengembangkan self-regulation. Saat dewasa, mereka kerap membutuhkan orang lain untuk menenangkan diri, bukan mengandalkan kekuatan internal.
Efek berikutnya muncul pada hubungan dewasa. Anak sering mengembangkan anxious-preoccupied attachment: takut ditinggalkan, sangat butuh validasi pasangan, dan cenderung overthinking.
Pesan implisit ibu yang penuh kecemasan seperti “Dunia berbahaya” atau “Kamu belum siap” membentuk self-efficacy rendah, membuat anak ragu mengambil risiko.
Dalam jangka panjang, siklus ini dapat berulang antar generasi. Anak bisa mewarisi anxious attachment ke keluarganya sendiri tanpa sadar, kecuali ada intervensi psikologis.
Meski demikian, pola ini dapat diputus. Kesadaran diri, regulasi emosi, dan konsistensi dalam pengasuhan menjadi kunci membangun secure attachment yang lebih sehat.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar