Perayaan ulang tahun ke-17 Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) menjadi ruang refleksi peran agama sebagai perekat bangsa, digelar di Jakarta, Minggu (21/12/2025), dengan tema persatuan dan kedamaian.
Menteri Agama Nazaruddin Umar menegaskan keberhasilan kehidupan beragama tidak diukur dari banyaknya jamaah atau kemegahan acara, melainkan dari kedalaman penghayatan ajaran serta praktik nilai-nilai moral dalam keseharian.
Menurut Nazaruddin, agama seharusnya mendekatkan manusia dengan sesama dan Tuhannya, bukan menjadi sumber jarak sosial, apalagi alat legitimasi konflik di tengah masyarakat majemuk.
Ia mengajak tokoh agama dan umat lintas iman berperan aktif memperkuat harmoni keluarga, masyarakat, dan negara dengan menempatkan kasih, empati, serta tanggung jawab sosial sebagai inti keberagamaan.
Isu lingkungan hidup turut disorot sebagai tantangan kemanusiaan bersama, di mana pendekatan agama dinilai paling efektif membangun kesadaran menjaga alam karena menyentuh dimensi batin manusia.
Nazaruddin menilai ketaatan yang lahir dari kesadaran spiritual lebih kuat dibanding kepatuhan berbasis aturan semata, sebab dorongan moral sejati tumbuh dari hati, bukan dari pengawasan eksternal.
Ia mengapresiasi peran organisasi keagamaan, termasuk GEKIRA, yang konsisten merawat dialog, toleransi, dan persaudaraan kebangsaan di tengah meningkatnya polarisasi sosial global.
Perayaan ini menegaskan pesan penting bahwa agama, ketika dihayati secara substantif, tetap relevan sebagai energi moral untuk menjaga persatuan dan membangun Indonesia yang damai serta berkeadilan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar