Sejumlah riset pemasaran menunjukkan pilihan warna pada brand memengaruhi persepsi dan keputusan beli konsumen melalui pendekatan psikologi warna.
Pernah bertanya mengapa banyak merek makanan cepat saji identik dengan merah? Lihat saja gerai KFC, Mixue, atau Pizza Hut. Warna itu bukan kebetulan.
Dalam kajian pemasaran, fenomena tersebut dikenal sebagai psikologi warna. Warna dinilai mampu memengaruhi emosi, perhatian, hingga dorongan bertindak konsumen saat berhadapan dengan produk.
Merah hingga Kuning: Membangun Impuls dan Energi
Merah kerap diasosiasikan dengan energi, panas, dan urgensi. Warna ini cepat menarik perhatian dan sering digunakan pada produk yang menuntut keputusan spontan.
Di industri makanan, merah lazim dipadukan dengan kuning. Kombinasi ini memberi kesan hangat, ramah, sekaligus menggugah selera. Tak heran pola tersebut banyak dipakai restoran cepat saji global.
Selain sektor kuliner, merah juga identik dengan brand minuman seperti Coca-Cola yang menekankan kesan dinamis dan mudah diingat.
Kuning, di sisi lain, merepresentasikan optimisme dan keceriaan. Warna ini dekat dengan segmen anak muda serta produk keluarga.
Produk seperti Tolak Angin, Chitato, hingga karakter populer Pokémon memanfaatkan kuning untuk membangun kesan ceria dan mudah dikenali.
Biru, Hitam, Hijau: Kepercayaan hingga Keberlanjutan
Biru banyak digunakan sektor perbankan dan teknologi karena identik dengan stabilitas dan rasa aman. Di Indonesia, warna ini dominan pada identitas Bank BCA, Bank BRI, serta Bank Mandiri.
Platform digital global seperti Facebook juga memanfaatkan biru untuk membangun kepercayaan dan kesan profesional.
Hitam menawarkan citra berbeda. Warna ini lekat dengan kemewahan, formalitas, dan eksklusivitas. Industri fesyen premium, seperti Chanel dan Louis Vuitton, menjadikannya identitas utama.
Sementara itu, hijau sering diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Perusahaan teknologi dan layanan digital seperti Tokopedia, Gojek, serta Grab menggunakannya untuk menegaskan citra ramah lingkungan dan pertumbuhan.
Putih pun tak kalah penting. Warna ini menampilkan kesan bersih dan sederhana, sebagaimana terlihat pada identitas Apple yang menonjolkan minimalisme.
Sejumlah laporan pemasaran, termasuk kajian Color Psychology, menyebut pemilihan warna tepat dapat meningkatkan pengenalan merek hingga 80 persen dan memengaruhi ketertarikan beli hingga 85 persen.
Artinya, warna bukan sekadar estetika. Ia bekerja secara emosional, membentuk persepsi, lalu mendorong keputusan. Bagi pelaku UMKM, bisnis daring, hingga perusahaan besar, strategi warna menjadi bagian penting dalam membangun identitas sekaligus kepercayaan pasar.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar