Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menyoroti gangguan keamanan penerbangan di Papua setelah insiden penembakan pesawat, Jumat (20/2/2026).
Pemerintah memberi perhatian serius pada situasi keamanan penerbangan perintis dan layanan publik setelah penembakan pesawat milik PT Smart Cakrawala Aviation pada rute Tanah Merah–Koroway Batu.
Insiden itu memicu penutupan sementara 11 bandara di Papua. Dampaknya terasa luas, termasuk terganggunya distribusi logistik dan layanan kesehatan di wilayah terpencil.
Melalui Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara dan Kesatuan Bangsa Purwito Hadi Wardhono, pemerintah menegaskan negara tidak akan mundur menjaga keselamatan warga dan kedaulatan wilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bertema ancaman keamanan udara nasional di kantor Kemenko Polkam, Jakarta.
Langkah cepat langsung ditempuh melalui evaluasi menyeluruh sistem pengamanan penerbangan. Penutupan bandara disebut sebagai tindakan preventif sambil menunggu penguatan pengamanan aparat.
Bandara Dibuka Bertahap, Stabilitas Jadi Prioritas
Pemerintah menegaskan gangguan terhadap objek vital nasional, termasuk bandara dan fasilitas publik, merupakan ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat dan tidak akan ditoleransi.
Aparat TNI dan Polri diminta bertindak tegas terhadap pelaku sesuai hukum. Masyarakat juga diimbau tidak terprovokasi informasi menyesatkan.
Rapat yang melibatkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, BIN, serta pemerintah daerah memutuskan pembukaan bandara dilakukan bertahap.
Bandara Koroway Batu, Beoga, dan Iwur menjadi prioritas pembukaan setelah pengamanan dinilai memadai, guna menjaga konektivitas wilayah dan kesinambungan pelayanan publik.
Purwito menegaskan stabilitas keamanan Papua merupakan syarat utama keberlangsungan pembangunan, distribusi logistik, serta terjaganya keutuhan Indonesia.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar