Kolaborasi sektor industri dan pemerintah dalam forum teknologi di Surabaya memunculkan peringatan serius soal ancaman siber yang kini tak lagi sekadar risiko data, melainkan juga keselamatan manusia.
Terkait hal tersebut, Yorindo Communication bersama APKOMINDO dan APTIKNAS menggelar roadshow teknologi di Surabaya pada 10–11 Februari 2026.
Peringatan Serius Keamanan Siber
Forum dua hari di Hotel Grand Inna Surabaya itu menghadirkan partisipasi penuh Badan Siber dan Sandi Negara yang menyoroti meningkatnya kompleksitas ancaman digital lintas sektor.
Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas menegaskan risiko siber kini melampaui kebocoran data. Serangan terhadap perangkat medis terhubung jaringan bisa berdampak langsung pada keselamatan pasien.
Ia memaparkan, sepanjang 2024 tercatat 351,7 juta anomali trafik siber di Indonesia. Aktivitas malware mendominasi dengan porsi 66,59 persen—indikator ancaman nyata bagi infrastruktur digital nasional.
Standar keamanan seperti ISO 27001 dan kerangka proteksi khusus Internet of Medical Things terus didorong agar fasilitas kesehatan tidak membangun sistem canggih di atas fondasi rapuh.
Infrastruktur Jadi Kunci Transformasi
Ketua umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Soegiharto Santoso, menekankan transformasi digital sektor kesehatan tak cukup berhenti pada rekam medis elektronik.
Menurutnya, konsep Hospital 5.0 menuntut jaringan berlatensi nyaris nol melalui fiber optik khusus, private 5G, serta integrasi perangkat medis yang aman dan redundan.
“Telesurgery membuat konektivitas menjadi faktor keselamatan. Gangguan jaringan bukan soal teknis, melainkan potensi nyawa manusia,” ujarnya dalam sesi pembuka.
Sesi hari pertama juga menghadirkan Maxy Academy yang mendorong rumah sakit menyiapkan SDM “AI Talent Ready” agar tenaga medis mampu memanfaatkan kecerdasan buatan secara operasional.
Ketua komisariat Surabaya PERSI menilai transformasi smart hospital harus dimulai dari peta jalan digital terintegrasi, termasuk kesiapan telesurgery dan robotik medis.
Memasuki hari kedua, fokus bergeser ke sektor industri luas—manufaktur, perbankan, logistik, hingga pendidikan—dengan tema transformasi digital aman dan efisien.
Soegiharto kembali mengingatkan bahwa adopsi AI tanpa fondasi infrastruktur berdaulat berisiko menjerumuskan perusahaan pada solusi “kotak hitam” yang tak transparan.
Ia menyoroti pilihan strategis antara cloud publik dan sistem AI mandiri, terutama bagi sektor dengan data sensitif seperti kesehatan dan keuangan.
Praktisi AI dan IoT Agus Dedi Supriyadi menutup forum dengan demonstrasi otomatisasi workflow menggunakan platform n8n yang langsung dipraktikkan peserta.
Penyelenggara menilai antusiasme tinggi peserta menjadi sinyal bahwa kolaborasi pemerintah, asosiasi, dan industri kian penting menghadapi percepatan transformasi digital nasional.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar