Tom Lembong menilai ekonomi Indonesia menghadapi risiko serius akibat kredibilitas data, likuiditas pasar, dan penurunan bobot di indeks global.
Secara resmi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertengger di kisaran 5 persen. Namun, menurut Tom, angka itu belum tentu mencerminkan realitas di lapangan.
Penjualan sepeda motor hanya tumbuh tipis, sekitar 0,6–1,3 persen. Penjualan mobil justru turun 7–9 persen. Dalam lima tahun terakhir, proporsi kelas menengah menyusut dari 22 persen menjadi 17 persen.
Bagi Tom, indikator tersebut mengisyaratkan pelemahan daya beli riil. Ketika data makro tampak stabil tetapi konsumsi melemah, kredibilitas statistik ekonomi menjadi sorotan.
Tekanan Global dan Risiko Likuiditas
Tom juga menyinggung pengurangan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Indeks ini menjadi acuan utama investor global dalam menentukan alokasi dana.
Perubahan bobot sekecil apa pun dapat memicu arus modal keluar dengan cepat. Jika fondasi pasar rapuh, dampaknya bisa berlipat.
Pasar obligasi dan pasar uang domestik dinilai relatif kecil dan kurang likuid. Porsi kepemilikan asing turun tajam, dari kisaran 30–40 persen menjadi 13–15 persen.
Akibatnya, pemerintah makin bergantung pada investor domestik dengan biaya pinjaman lebih tinggi. Risiko terburuk, kata Tom, adalah krisis likuiditas ketika investor asing melepas obligasi secara besar-besaran.
Ia membandingkan dengan Amerika Serikat yang pernah menghadapi gelembung saham teknologi. Negeri itu mampu meredam gejolak karena pasar likuid, data kredibel, dan dolar sebagai mata uang cadangan global.
Indonesia, menurutnya, tidak memiliki privilese tersebut. Daya tahan terhadap guncangan lebih bergantung pada tata kelola dan infrastruktur pasar yang solid.
Reformasi Struktural dan Strategi Bertahan
Tom menilai pergantian pejabat bursa belum cukup. Reformasi struktural diperlukan, mulai dari tata kelola pasar modal hingga kredibilitas data makro dan disiplin fiskal.
Melobi lembaga pemeringkat, katanya, bukan solusi jangka panjang. Tanpa pembenahan mendasar, risiko krisis hanya menunggu momentum.
Di level personal, ia menyarankan diversifikasi aset, termasuk mata uang asing, serta gaya hidup konservatif. Sektor padat karya dan ekspor jasa digital dinilai potensial memperkuat devisa.
Dalam jangka panjang, stabilitas ekonomi bergantung pada kualitas sumber daya manusia, prinsip demokrasi yang konsisten, dan generasi muda yang kritis.
Penulis Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar