Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. H. Sudaryono, menegaskan bahwa pelaku usaha yang masih berharap menjadi importir beras, jagung, dan gula di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebaiknya segera berpindah profesi.
Penegasan tersebut disampaikannya dalam acara Pengukuhan Dewan Pengurus Nasional (DPN) sekaligus Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Pengusaha Tani Indonesia - HKTI yang digelar di Jakarta, Selasa (21/07/2026).
Pembatasan Impor dan Kebijakan Swasembada Pangan
Pemerintahan era Presiden Prabowo Subianto menetapkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Kebijakan politik tertinggi saat ini mengarah pada pencapaian swasembada pangan secara menyeluruh, sehingga celah untuk melakukan impor komoditas utama semakin diperketat.
"Importir beras? Kalau di era Pak Prabowo Anda ganti profesi mau coba-coba jadi importir beras, Anda pasti keliru karena eranya adalah era swasembada," ujar Wamentan.
Langkah serupa berlaku untuk komoditas jagung, gula, hingga bawang putih yang ditargetkan bebas dari ketergantungan impor dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan.
Pengusaha Tani Diminta Garap Bisnis Ekspor Riil
Sudaryono mengimbau para pengusaha tani agar tidak terus-menerus bergantung pada proyek pemerintah yang didanai anggaran negara. Jumlah proyek APBN terbatas serta berada di bawah pengawasan ketat lembaga penegak hukum seperti BPKP, BPK, KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian.
Pengusaha disarankan mengalihkan fokus pada peluang perdagangan riil dan ekspor Internasional yang pasarnya terbuka lebar, seperti komoditas ceker ayam, unggas, kakao, hingga karet ke negara tujuan seperti Tiongkok, Rusia, dan Belarusia.
"Jangan hanya kemudian mencari akses untuk kemudian 'memproyek'. Bisnis perdagangan yang bener aja, ekspor-impor yang bener, pakai jaringan kita," tegas Sudaryono.
Dukungan Bibit Gratis Rp9,9 Triliun dan Komitmen Bersih
Guna mendukung peningkatan produksi nasional dan komoditas berorientasi ekspor, pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp9,9 triliun untuk pembagian bibit gratis kepada para petani di seluruh Indonesia, mencakup tanaman tebu, kakao, kelapa, kopi, mete, lada, hingga pala.
Di samping itu, Kementan menjamin seluruh proses akses informasi dan fasilitasi bisnis berjalan secara transparan tanpa pemungutan biaya atau imbalan apa pun.
"Kalau ada di antara kita atau orang yang mengaku orang dekat saya di Kementan membantu Anda kok minta fee, kalau ketahuan dua-duanya kita laporkan," tambah Sudaryono.
Ia menutup arahannya melalui filosofi anekdot 'mencari kunci di tempat terang', mengingatkan pengurus Pengusaha Tani HKTI agar bersedia bekerja keras langsung di lapangan ketimbang sekadar bertahan di kenyamanan ruang ber-AC.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
#WamentanSudaryono #SwasembadaPangan #PresidenPrabowo #PengusahaTaniHKTI #PertanianIndonesia #StopImporBeras #EksporPertanian #KementerianPertanian #InfoTani #EkonomiNasional










Tidak ada komentar:
Posting Komentar