Pemerintah Indonesia terus mempercepat penguatan sistem kesehatan nasional melalui sinergi lintas negara. Peluncuran program kemitraan Indonesia Australia Kita Sehat Bappenas menjadi langkah nyata dalam membenahi fasilitas medis primer sekaligus menangani krisis gizi buruk dan penyakit menular di tingkat daerah.
Tantangan Kesehatan Kepulauan dan Rabies di NTT
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum, menyambut baik penetapan wilayahnya sebagai lokus prioritas. Menurutnya, karakteristik wilayah kepulauan menjadi hambatan geografis utama dalam pemerataan fasilitas medis masyarakat.
"Program ini hadir pada waktu yang tepat di tengah semangat kita bersama untuk memastikan bahwa layanan kesehatan yang bermutu dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia," ujar Johni di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Isu gizi buruk masih membayangi NTT. Tiga kabupaten sasaran mencatat angka stunting memprihatinkan, yakni Sikka sebesar 39 persen (1.986 balita), Belu 29 persen (13.750 balita), dan Sumba Barat Daya menyentuh 39 persen (15.162 balita).
Selain stunting, NTT menghadapi ancaman 16 kabupaten/kota yang terinfeksi rabies. Wilayah ini membutuhkan 400.000 dosis vaksin rabies hewan, di mana baru 200.000 dosis yang terpenuhi melalui bantuan World Organisation for Animal Health dan Mission Rabies USA.
Akselerasi Penanganan Zoonosis dan Stunting di Jawa Barat
Sementara itu, Jawa Barat dengan populasi 51 juta jiwa menempatkan program KITA SEHAT periode 2025–2029 sebagai katalis percepatan penanganan gizi dan penyakit ternak. Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, memaparkan pencapaian keberhasilan penurunan stunting daerahnya.
"Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024, prevalensi stunting di Jawa Barat berada di angka 15,9%, menurun cukup signifikan dari tahun sebelumnya yaitu 21,7%," ujar Uu Ruzhanul Ulum, Wakil Gubernur Jawa Barat.
Meskipun indikator wasting turun dari 6,4 persen menjadi 4,4 persen dan underweight menjadi 11,7 persen, tantangan besar tetap membayang pada 4 juta balita Jawa Barat.
Sektor ketahanan hewan juga menghadapi ancaman serius sepanjang 2025, tercatat 4.243 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di 26 kabupaten/kota serta 704 kasus Lumpy Skin Disease (LSD) di 16 kabupaten/kota yang mengalami lonjakan hingga 23 persen.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
#ProgramKITASehat #Bappenas #TransformasiKesehatan #CegahStunting #KemitraanIndonesiaAustralia #KesehatanHewan #BebasRabies #JawaBaratBebasStunting #NTTSehat #KemenkesRI










Tidak ada komentar:
Posting Komentar