Direktur Utama OASA Bobby Gafur Umar saat memberikan paparan publik mengenai proyek PSEL Jakarta Barat Maharaksa Biru Energi.
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) mempercepat realisasi infrastruktur hijau lewat proyek Proyek PSEL Jakarta Barat. Langkah taktis ini diambil guna menekan dampak buruk perusakan lingkungan akibat tata kelola limbah nasional yang menumpuk.
Direktur Utama OASA Bobby Gafur Umar menegaskan komitmen korporasi tersebut dalam public expose teranyar di Jakarta, Senin (20/7/2026), demi merespons tingginya pelepasan emisi gas metana domestik.
Urgensi Proyek PSEL Jakarta Barat Maharaksa Biru Energi
TPA Bantar Gebang kini menjadi kontributor emisi gas metana terbesar kedua di dunia dengan pelepasan mencapai 6,3 ton per jam. Kondisi ekologis kritis tersebut mendorong perseroan menghadirkan solusi konversi termal untuk mereduksi timbulan 35 juta ton sampah nasional tahunan.
Berdasarkan kajian JICA, sistem pengolahan berbasis teknologi termal sanggup memangkas volume total sampah di atas 85 persen secara efisien.
Proyeksi McKinsey menunjukkan pasar bisnis hijau Asia bernilai jumbo, di mana sektor pengelolaan sampah berpotensi meraih USD 200 miliar hingga USD 260 miliar.
Upaya taktis ini berjalan beriringan dengan pemenuhan target dokumen iklim SNDC Indonesia sebesar USD 472,6 edisi Net Zero Emission 2060.
Kinerja Keuangan dan Pemangkasan Liabilitas OASA
Ekspansi komersial ini berjalan di tengah kondisi internal perusahaan yang masih mencatatkan rugi bersih sepanjang tahun buku 2025.
Pendapatan usaha neto OASA tercatat menyusut 51,2 persen menjadi Rp32,58 miliar akibat lesunya segmen jasa konstruksi yang turun ke angka Rp23,72 miliar.
Sebaliknya, pos pendapatan dari lini penjualan barang merangkak naik tipis hingga menyentuh Rp8,86 miliar. Manajemen merespons penurunan aktivitas usaha ini dengan menekan beban pokok pendapatan sebesar 49,24 persen menjadi Rp27,17 miliar.
Meskipun beban usaha beranjak naik ke Rp49,08 kerja serta laba bruto tergerus menjadi Rp5,41 miliar, OASA terbantu oleh pos lain-lain neto yang berbalik untung Rp7,38 miliar.
Hasilnya, posisi rugi tahun berjalan perseroan menyusut 28,55 persen menjadi Rp45,37 miliar, sementara rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp42,78 miliar.
Struktur neraca menunjukkan total aset akhir tahun terkoreksi menjadi Rp621,56 miliar diikuti penurunan ekuitas menjadi Rp558,06 miliar.
Kinerja paling impresif dari manajemen terlihat pada pemangkasan total liabilitas sebesar 52,29 persen menjadi Rp63,50 miliar. Penurunan utang korporasi secara signifikan ini menjadi modal finansial sehat untuk melanjutkan psel jakarta barat maharaksa biru energi.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto
#OASA #MaharaksaBiruEnergi #PSELJakartaBarat #BisnisHijau #BantarGebang #LaporanKeuangan #SahamOASA #BobbyGafurUmar #InvestasiHijau #NetZeroEmission2060











Tidak ada komentar:
Posting Komentar