Strategi distribusi film horor Indonesia menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk "Distribusi dan Peredaran Film: Horor yang Ngeri-Ngeri Sedap" yang digelar dalam rangka Festival Film Horor (FF Horor) di Jakarta, Sabtu (13/6/2026). Forum bulanan tersebut menghadirkan pelaku industri perfilman untuk membahas tantangan, peluang, hingga perubahan pola distribusi film di tengah berkembangnya platform digital.
Diskusi menyoroti bagaimana film horor tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai produk industri yang harus mampu bersaing di pasar hiburan. Selain membahas tren perpaduan genre horor dan komedi, para pembicara juga mengulas strategi agar film dapat menjangkau penonton secara optimal melalui jaringan bioskop maupun layanan streaming.
Film Horor Harus Diposisikan sebagai Produk Industri
Produser film Riko Michael menegaskan bahwa pelaku industri perlu memahami perbedaan antara film sebagai karya festival dan film yang ditujukan untuk pasar komersial.
"Film itu pada akhirnya adalah bisnis. Kalau kita berbicara masuk ke bioskop, maka yang ditawarkan adalah produk komersial. Sementara di festival, film merupakan karya seni," ujar Riko dalam diskusi tersebut.
Menurut dia, keberhasilan distribusi tidak hanya ditentukan kualitas cerita, tetapi juga strategi pemasaran yang kini semakin bergantung pada kekuatan media sosial. Karena itu, rumah produksi harus memahami karakter pasar sebelum menentukan jalur distribusi.
Riko juga menjelaskan bahwa bioskop pada dasarnya merupakan mitra bisnis yang memiliki pertimbangan komersial dalam menentukan film yang akan ditayangkan. Pendapatan dari tiket, kata dia, umumnya dibagi antara pengelola bioskop dan produsen film setelah dikurangi pajak.
OTT Menjadi Sumber Pendapatan Alternatif
Selain bioskop, platform over-the-top (OTT) seperti Netflix dinilai semakin penting dalam ekosistem industri film Indonesia. Namun, Riko menegaskan bahwa kerja sama dengan platform streaming memiliki skema bisnis yang berbeda dibandingkan bioskop.
"Kalau Netflix sifatnya putus. Mereka membeli hak tayang dalam periode tertentu dan tidak bergantung pada jumlah penonton yang menyaksikan film tersebut," katanya.
Ia menambahkan bahwa platform global menerapkan standar produksi yang tinggi, mulai dari penggunaan kamera profesional, kualitas gambar hingga pengawasan kreatif selama proses produksi.
Peluang dan Tantangan Perfilman Nasional
Diskusi juga menghadirkan Toto Sugriwo dari Lembaga Sensor Film Republik Indonesia yang turut memberikan pandangan mengenai perkembangan industri perfilman nasional.
Para peserta sepakat bahwa perkembangan layanan streaming telah membuka peluang distribusi yang lebih luas bagi film Indonesia. Namun, di saat yang sama, rumah produksi dituntut meningkatkan kualitas produksi agar mampu bersaing di pasar global.
Melalui forum Festival Film Horor, pelaku industri berharap lahir strategi distribusi film horor Indonesia yang lebih adaptif sehingga karya sineas nasional dapat menjangkau penonton yang lebih luas, baik melalui jaringan bioskop maupun platform digital internasional.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























