Kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan yang kian kompleks. Di tengah kenaikan biaya hidup, harga rumah yang terus melambung, serta mahalnya pendidikan dan layanan kesehatan, banyak keluarga kelas menengah kini tidak lagi berjuang untuk naik kelas ekonomi, melainkan bertahan agar tidak tergelincir ke bawah.
Temuan itu tergambar dalam riset Katadata Insight Center (KIC) bertajuk Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan Indonesia. Survei menunjukkan tekanan ekonomi kelas menengah Indonesia 2026 tidak lagi bersifat sementara, melainkan telah menjadi tantangan struktural yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan rumah tangga.
Rumah Menjadi Mimpi yang Makin Jauh
Kepemilikan hunian menjadi persoalan paling nyata. Sebanyak 35 persen responden menyebut mahalnya harga rumah sebagai hambatan utama untuk memiliki hunian, sementara 29 persen mengaku terkendala akses pembiayaan dan kredit pemilikan rumah (KPR).
Kondisi tersebut membuat sebagian kelas menengah memilih menunda pembelian rumah, tetap menyewa, atau tinggal bersama keluarga lebih lama dari rencana awal. Kenaikan pendapatan dinilai tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga properti.
Pendidikan dan Kesehatan Jadi Beban Baru
Di tengah sulitnya memiliki aset, pendidikan justru menjadi investasi utama. Sebanyak 99 persen responden berharap anak mereka menempuh pendidikan yang lebih tinggi dibanding orang tuanya. Kepercayaan terhadap sekolah swasta juga meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Namun harapan tersebut dibayangi kenaikan biaya pendidikan yang dinilai semakin membebani kondisi keuangan keluarga. Survei menunjukkan biaya pendidikan menjadi salah satu aspek yang memperoleh penilaian terendah dari responden.
Tekanan serupa muncul di sektor kesehatan. Kelas menengah memandang biaya kesehatan sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keuangan keluarga. Bahkan kepercayaan terhadap rumah sakit pemerintah tercatat menurun 21,4 persen dibanding tahun sebelumnya.
Besar Pasak daripada Tiang
Survei juga menemukan 63,6 persen responden pernah mengalami kondisi ketika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan dalam setahun terakhir. Situasi ini mencerminkan semakin tipisnya bantalan ekonomi kelompok yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung konsumsi nasional.
Untuk bertahan, banyak keluarga memanfaatkan tabungan, memangkas pengeluaran, mencari pekerjaan sampingan, hingga menjual aset. Hampir separuh responden kini memiliki pekerjaan tambahan, dan mayoritas berencana mempertahankannya dalam lima tahun mendatang.
Temuan KIC memperlihatkan kelas menengah Indonesia sedang berada di titik kritis. Tekanan ekonomi tidak hanya mengganggu kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mengurangi kapasitas mereka mempersiapkan masa depan. Di tengah impitan biaya hidup, kelas menengah kini tidak lagi sekadar mengejar kesejahteraan, melainkan berjuang menjaga posisi agar tidak turun kelas sosial-ekonomi.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar