PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) mencatat perbaikan kinerja BAJA 2025 membaik setelah rights issue yang dilakukan perseroan. Langkah penguatan permodalan tersebut berhasil memperbaiki struktur keuangan perusahaan sekaligus mengurangi tekanan kerugian yang selama beberapa tahun membebani kinerja emiten baja tersebut.
Dalam Public Expose di Jakarta, Senin (7/6/2026), Corporate Secretary BAJA, Handaja Susanto menjelaskan bahwa penjualan bersih sepanjang 2025 mencapai Rp824,22 miliar atau meningkat 4,56 persen dibandingkan Rp788,26 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan turut mendorong laba bruto melonjak menjadi Rp24,51 miliar dari Rp9,67 miliar pada 2024.
Laba Operasi Berhasil Berbalik Positif
Perbaikan paling menonjol terlihat pada tingkat operasional. BAJA membukukan laba operasi sebesar Rp7,60 miliar pada 2025, berbanding terbalik dengan rugi operasi Rp13,01 miliar pada tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut mencerminkan efektivitas program efisiensi yang dijalankan perusahaan, termasuk pengendalian biaya produksi dan peningkatan kualitas penjualan. Meski demikian, beban keuangan dan dampak selisih kurs masih menekan kinerja laba bersih.
Kerugian sebelum pajak tercatat Rp34,78 miliar, membaik dibandingkan rugi sebelum pajak sebesar Rp57,25 miliar pada 2024. Sementara itu, rugi bersih tahun berjalan menyusut menjadi Rp36,42 miliar dari Rp56,68 miliar pada tahun sebelumnya, atau turun sekitar 35,75 persen secara tahunan.
Rights Issue Perkuat Struktur Permodalan
Handaja menilai rights issue menjadi faktor utama yang mendukung pemulihan fundamental perusahaan. Aksi korporasi tersebut mendorong peningkatan ekuitas dari Rp29,93 miliar menjadi Rp509,43 miliar.
Pada saat yang sama, total liabilitas turun signifikan dari Rp639,41 miliar menjadi Rp161,68 miliar. Dampaknya, rasio utang terhadap ekuitas (DER) merosot tajam dari 21,36 kali menjadi hanya 0,32 kali. Beban akrual juga berkurang Rp135,82 miliar, terutama berasal dari penurunan kewajiban bunga dan penyesuaian selisih kurs.
Fokus Produk Bernilai Tambah Tinggi
Selain memperkuat modal, BAJA mengembangkan produk bernilai tambah melalui spesifikasi Project Grade Saranalume serta peluncuran Saranacolor Extra dengan teknologi Super Durable Polyester. Strategi ini ditujukan untuk meningkatkan margin usaha dan memperkuat daya saing di pasar baja lapis nasional.
Target Pertumbuhan pada 2026
Untuk 2026, BAJA menargetkan volume penjualan Saranalume tumbuh 10 persen dengan kenaikan harga sekitar 5 persen. Penjualan Saranacolor diproyeksikan meningkat 20 persen dengan kenaikan harga sekitar 6 persen.
Kinerja kuartal I 2026 menunjukkan sinyal positif. Penjualan bersih mencapai Rp250,11 miliar atau melonjak 38,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume penjualan meningkat 44,69 persen menjadi 16,82 juta kilogram.
Dengan struktur modal yang lebih sehat pasca-rights issue serta pertumbuhan operasional yang terus membaik, BAJA optimistis dapat melanjutkan tren pemulihan kinerja dan memperkuat posisinya di industri baja nasional sepanjang 2026.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar