Sebuah narasi yang beredar di kalangan aktivis mahasiswa kembali memunculkan perdebatan mengenai relasi antara agama, pendidikan, dan sistem politik modern. Melalui dokumen bertajuk "Seruan Kesadaran", sejumlah aktivis mengajak mahasiswa untuk mengkritisi demokrasi sekuler yang mereka nilai sebagai sumber berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Dalam dokumen tersebut, mahasiswa didorong untuk mengembalikan orientasi perjuangan kepada nilai-nilai tauhid dan menjadikan kampus sebagai ruang pembentukan intelektual yang tidak hanya kritis terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga terhadap fondasi ideologis yang dianggap melatarbelakangi berbagai persoalan bangsa.
Kritik terhadap Demokrasi dan Sistem Pendidikan
Narasi yang berkembang itu menempatkan demokrasi sekuler sebagai akar berbagai masalah struktural, mulai dari ketimpangan ekonomi, kemiskinan, hingga kerusakan lingkungan. Para penyusunnya berpendapat bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak cukup jika tidak menyentuh sistem yang dianggap menjadi sumber persoalan.
Selain demokrasi, sistem pendidikan juga menjadi sasaran kritik. Mereka menilai kurikulum pendidikan tinggi belum sepenuhnya mendorong lahirnya pemikiran alternatif yang berbasis nilai-nilai keagamaan. Kampus disebut lebih banyak menghasilkan lulusan yang beradaptasi dengan sistem yang ada dibandingkan mendorong perubahan mendasar terhadap struktur sosial dan ekonomi.
Ajakan Membangun Gerakan Intelektual
Dalam bagian lain, dokumen tersebut mengajak mahasiswa muslim membangun gerakan intelektual yang berlandaskan tauhid. Gerakan itu diarahkan untuk mengkaji berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, dan pendidikan, dari perspektif keagamaan.
Para aktivis juga menyerukan diskusi yang lebih luas mengenai kurikulum pendidikan, sistem ekonomi berbasis utang dan bunga, serta hubungan agama dengan tata kelola negara. Mereka menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam perdebatan intelektual mengenai arah pembangunan bangsa.
Ruang Perdebatan di Lingkungan Akademik
Munculnya seruan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai demokrasi, sekularisme, dan peran agama dalam kehidupan publik masih menjadi isu yang hidup di lingkungan akademik Indonesia.
Sejumlah pengamat menilai kampus memang merupakan ruang yang sah untuk mempertukarkan gagasan, termasuk kritik terhadap sistem yang berlaku. Namun, setiap pandangan tetap perlu diuji melalui argumentasi ilmiah, dialog terbuka, serta penghormatan terhadap keberagaman perspektif yang berkembang di masyarakat.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar