PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI) berhasil membalikkan kinerja keuangan ke zona positif sepanjang 2025. Emiten jasa angkutan dan penunjang pertambangan tersebut mencatat pendapatan usaha sebesar Rp455,88 miliar, meningkat 8,5 persen dibandingkan Rp420,17 miliar pada 2024.
"Peningkatan pendapatan berhasil mendorong perbaikan profitabilitas perusahaan. Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp8,36 miliar dan mencetak laba bersih Rp2,24 miliar, berbalik dari posisi rugi pada tahun sebelumnya," kata Direktur AKSI, Roni Tan dalam Public Expose di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Menurut Roni Tan, Perbaikan kinerja didukung peningkatan jasa angkutan, disiplin pengendalian biaya operasional, optimalisasi armada, serta penguatan hubungan dengan pelanggan.
Kinerja Keuangan Membaik, Neraca Semakin Solid
Selain mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba, AKSI juga memperkuat posisi keuangannya. Hingga akhir 2025, total aset perseroan tercatat Rp334,81 miliar, dengan ekuitas mencapai Rp171,42 miliar. Sementara kas dan setara kas berada di level Rp96,45 miliar.
Perseroan tetap menjadikan jasa angkutan darat dan layanan penunjang pertambangan batu bara sebagai tulang punggung bisnis. Namun, manajemen mulai membuka peluang ekspansi secara selektif ke sektor mineral lainnya yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah.
Operasional perusahaan didukung anak usaha PT Rezki Batulicin Transport yang memiliki 136 unit armada angkutan untuk melayani kebutuhan sektor pertambangan.
Prospek 2026 dan Tantangan yang Dihadapi
Manajemen memandang prospek bisnis AKSI pada 2026 masih menjanjikan seiring tingginya kebutuhan energi domestik dan berlanjutnya program hilirisasi mineral nasional.
Jasa angkutan batu bara dinilai tetap relevan untuk menopang rantai pasok pembangkit listrik dan sektor industri. Di sisi lain, komoditas nikel membuka peluang baru sejalan dengan pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik.
AKSI menargetkan pendapatan sebesar Rp479 miliar dan laba bersih Rp11,70 miliar pada 2026. Namun, perusahaan mengakui terdapat sejumlah tantangan, termasuk penurunan pendapatan kuartal I 2026 menjadi Rp82,27 miliar dari Rp144,47 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya akibat menurunnya volume angkutan dan penyesuaian jadwal pelanggan.
Strategi Hadapi Volatilitas Industri
Untuk menjaga pertumbuhan, AKSI akan meningkatkan utilisasi armada, memperketat pengendalian biaya operasional, serta memperkuat kualitas kontrak dengan margin yang lebih sehat.
Perusahaan juga berfokus mempertahankan pelanggan eksisting, memperluas layanan angkutan mineral secara bertahap, serta memperkuat pengelolaan modal kerja, arus kas, dan manajemen risiko guna menghadapi volatilitas harga komoditas dan dinamika industri pertambangan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar