PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) membukukan pendapatan sebesar Rp263,85 miliar sepanjang tahun buku 2025. Angka tersebut turun 7,07% atau Rp20,06 miliar dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp283,91 miliar.
Direktur Utama INPS, Eddy Purwanto Winata, mengungkapkan penurunan pendapatan dipengaruhi oleh melemahnya kinerja sejumlah lini usaha utama Perseroan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Public Expose Insidentil yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Pendapatan Tertekan, Segmen Logistik Alami Penurunan Terdalam
Meski masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan, segmen Agen BBM, Pelumas dan Gas mencatat penjualan sebesar Rp178,90 miliar pada 2025 atau turun 3,01% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp184,45 miliar. Kontribusi segmen ini mencapai sekitar 67,8% dari total pendapatan Perseroan.
Pada segmen SPPBE, pendapatan tercatat Rp9,07 miliar, turun tipis 1,01% dibandingkan Rp9,16 miliar pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, tekanan terbesar terjadi pada segmen Transportasi dan Logistik. Pendapatan lini usaha ini turun 15,97% menjadi Rp75,88 miliar dari Rp90,30 miliar pada 2024. Kontraksi tersebut menjadi faktor utama yang menekan pendapatan konsolidasi Perseroan sepanjang tahun berjalan.
Efisiensi Operasional Dorong Perbaikan Kinerja
Di tengah penurunan pendapatan, INPS berhasil menjaga profitabilitas melalui berbagai langkah efisiensi. Beban pokok penjualan turun 8,29% menjadi Rp221,14 miliar, sehingga laba bruto relatif stabil di level Rp42,71 miliar.
Perusahaan juga memangkas beban usaha sebesar 13,52% menjadi Rp35,48 miliar dari sebelumnya Rp41,03 miliar. Selain itu, rugi dari pos non-operasional berhasil ditekan 18,22% menjadi Rp24,32 miliar.
Perbaikan tersebut berdampak langsung pada penyusutan rugi sebelum pajak yang turun 38,88% menjadi Rp17,10 miliar dibandingkan Rp27,97 miliar pada tahun sebelumnya.
Adapun rugi bersih tahun berjalan berhasil ditekan menjadi Rp19,13 miliar, membaik 36,70% dari rugi bersih 2024 yang mencapai Rp30,23 miliar.
Rasio Keuangan dan Strategi Pengembangan
Dari sisi likuiditas, kondisi Perseroan menunjukkan perbaikan signifikan. Current Ratio meningkat menjadi 0,48 kali dari 0,12 kali, sementara Cash Ratio naik menjadi 0,34 kali dan Quick Ratio mencapai 0,39 kali.
Margin usaha juga membaik. Gross Profit Margin meningkat menjadi 16,19%, sedangkan Operating Profit Margin membaik menjadi negatif 6,48% dari negatif 9,85% pada tahun sebelumnya.
Ke depan, INPS menyiapkan sejumlah strategi pengembangan bisnis, antara lain penerapan program Zero Losses dan Zero Accident, digitalisasi dokumen operasional, peningkatan layanan pelanggan, penguatan pemeliharaan jalur distribusi, serta penambahan armada kendaraan guna mendukung pertumbuhan usaha.
Perseroan juga terus menjalankan program keberlanjutan melalui penerapan kesetaraan gender, kampanye hidup sehat, pembangunan fasilitas olahraga bagi masyarakat, serta program efisiensi energi dan pengurangan penggunaan kertas.
Tantangan utama yang masih dihadapi INPS adalah mengembalikan pertumbuhan pendapatan, terutama pada segmen transportasi dan logistik yang mengalami penurunan paling dalam sepanjang 2025.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar