PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) mencatatkan tonggak penting dalam perjalanan bisnisnya setelah berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,82 miliar pada kuartal pertama 2026. Capaian tersebut menjadi laba perdana sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), sekaligus berbalik dari rugi bersih Rp2,89 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menunjukkan lonjakan hingga 612,8 persen secara tahunan dengan perbaikan laba absolut mencapai Rp17,71 miliar. Hasil ini mencerminkan keberhasilan strategi efisiensi dan transformasi bisnis yang dijalankan Perseroan dalam dua tahun terakhir.
Kinerja Keuangan FOLK Menguat Signifikan
Selain mencatatkan laba bersih positif, FOLK juga memperlihatkan penguatan fundamental keuangan. Hingga 31 Maret 2026, total aset Perseroan meningkat 93,57 persen menjadi Rp147,50 miliar. Sementara itu, total ekuitas melonjak 108,42 persen menjadi Rp137,80 miliar.
Peningkatan tersebut ditopang oleh keberhasilan aksi korporasi private placement yang menghasilkan tambahan agio saham sebesar Rp53,99 miliar. Di sisi lain, total liabilitas tetap terkendali pada level Rp9,71 miliar dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) hanya 0,07 kali dan current ratio mencapai 8,65 kali.
Menariknya, Perseroan tidak memiliki utang bank sehingga seluruh kewajiban yang tercatat berasal dari aktivitas operasional.
Efisiensi dan Transformasi Digital Jadi Motor Pertumbuhan
Manajemen menjelaskan bahwa disiplin efisiensi yang diterapkan sejak 2024 menjadi fondasi utama perbaikan kinerja. Langkah tersebut berhasil menurunkan beban operasional hingga 22,4 persen dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan profitabilitas.
FOLK juga mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) Agent pada berbagai fungsi strategis, mulai dari riset investasi, pemantauan portofolio, kepatuhan regulasi, intelijen pasar modal, hingga otomatisasi pelaporan internal.
Direktur Utama PT Multi Garam Utama Tbk, Danny Sutradewa, mengatakan hasil kuartal pertama tahun ini menjadi validasi atas strategi yang dijalankan perusahaan.
“Kuartal I 2026 menandai titik infleksi bagi FOLK. Laba bersih yang kami catatkan merupakan konfirmasi awal bahwa strategi konsolidasi dan efisiensi operasional yang dijalankan selama dua tahun terakhir mulai membuahkan hasil,” ujar Danny Sutradewa dalam Public Expose di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Fokus Ekspansi Healthcare dan Infrastruktur
Sejalan dengan strategi diversifikasi, FOLK memperluas portofolio investasinya ke sektor kesehatan dan infrastruktur yang dinilai memiliki prospek jangka panjang kuat. Perseroan memperkuat eksposur melalui Diagnos Laboratorium Utama (DGNS) di sektor healthcare dan Traya Group di bidang infrastruktur pengolahan air bersih serta air limbah.
Ke depan, FOLK menargetkan pertumbuhan pendapatan di seluruh portofolio bisnis, memperkuat kondisi keuangan melalui optimalisasi arus kas, menjaga laba bersih tetap positif, serta memperluas ekspansi ke berbagai sektor strategis di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Manajemen meyakini kombinasi antara disiplin investasi, tata kelola aktif, dan sinergi antarportofolio akan menjadi fondasi utama untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











Tidak ada komentar:
Posting Komentar