Fenomena pemadaman listrik atau byar pet yang belakangan ramai diperbincangkan dinilai tidak dapat dipahami semata sebagai gangguan teknis jaringan. Di balik pemadaman yang mengganggu aktivitas rumah tangga, industri, hingga layanan digital, tersimpan persoalan yang lebih mendasar terkait ketahanan energi nasional dan arah kebijakan energi Indonesia.
Direktur Eksekutif Indonesian Initiative for Strategic and Policy Studies (INISIATOR), Yakub F. Ismail, menilai pemadaman bergilir merupakan gejala yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan kebutuhan energi dan kemampuan sistem nasional dalam menyediakan pasokan listrik yang memadai.
"Kondisi ini harus dibaca sebagai alarm serius bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan ketahanan energi yang membutuhkan solusi jangka panjang," tulis Yakub dalam artikelnya.
Ketergantungan pada Energi Fosil Jadi Sorotan
Menurut Yakub, meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan industri, digitalisasi, urbanisasi, dan konsumsi rumah tangga belum diimbangi transformasi kebijakan energi yang memadai.
Hingga kini, sistem pembangkitan nasional masih bertumpu pada batu bara, gas, dan minyak bumi. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil dinilai membuat sistem energi rentan terhadap gangguan pasokan maupun gejolak harga energi global.
Di sisi lain, sejumlah negara telah mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Singapura, misalnya, mulai memanfaatkan pengolahan sampah sebagai salah satu sumber energi alternatif untuk mendukung kebutuhan listrik nasional.
Energi dari Sampah Dinilai Paling Realistis
Yakub menilai Indonesia memiliki beragam sumber energi alternatif, mulai dari tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, hingga biogas. Namun di antara berbagai pilihan tersebut, pengolahan sampah menjadi energi listrik dinilai memiliki nilai strategis paling besar.
Alasannya, Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni krisis energi dan persoalan sampah yang terus meningkat di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Pemanfaatan teknologi waste-to-energy dinilai mampu menjawab kedua persoalan tersebut secara bersamaan. Melalui teknologi ini, sampah dapat dikonversi menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar alternatif dengan standar emisi yang terukur.
Menuju Sistem Smart Energy
Yakub menegaskan Indonesia perlu bergerak menuju konsep smart energy, yakni sistem energi yang tidak hanya mengandalkan satu sumber pasokan, tetapi mengintegrasikan berbagai sumber energi secara efisien dan berkelanjutan.
Menurut dia, pengembangan energi listrik berbasis sampah layak menjadi prioritas nasional karena mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi beban lingkungan akibat penumpukan sampah.
Apabila dijalankan secara konsisten, strategi tersebut dinilai dapat menjadi jalan keluar untuk mengurangi risiko byar pet listrik sekaligus mempercepat terwujudnya kemandirian energi Indonesia pada masa depan.
Penulis Lakalim Adalin
Editor Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar