PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) mencatat perbaikan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp1,74 triliun hingga 31 Desember 2025, meningkat tajam dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,07 triliun. Peningkatan pendapatan tersebut turut mendorong membaiknya berbagai indikator keuangan, termasuk penyusutan rugi bersih.
Direktur Utama JAWA, Harijadi Soedarjo, menyampaikan capaian tersebut dalam Public Expose Tahunan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). Menurut dia, peningkatan penjualan diikuti kenaikan beban pokok penjualan menjadi Rp1,52 triliun dari Rp960,43 miliar pada tahun sebelumnya.
"Adapun, Beban pokok penjualan tercatat naik menjadi Rp1,52 triliun dari Rp960,43 miliar membuat laba kotor naik menjadi Rp212,96 miliar dibanding laba kotor Rp110,33 miliar tahun sebelumnya," ujar Harijadi.
Laba Operasi Menguat
Kenaikan pendapatan turut mendorong laba kotor perseroan menjadi Rp212,96 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan Rp110,33 miliar pada 2024.
Di sisi lain, beban usaha meningkat menjadi Rp69,93 miliar dari Rp59,39 miliar. Meski demikian, laba usaha berhasil tumbuh menjadi Rp143,02 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp50,94 miliar.
Perbaikan juga terlihat pada pos beban lain-lain neto yang turun menjadi Rp152,41 miliar dari Rp250,54 miliar. Kondisi tersebut membuat rugi sebelum pajak menyusut drastis menjadi Rp9,38 miliar, dibandingkan rugi Rp199,59 miliar pada periode sebelumnya.
Rugi neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun signifikan menjadi Rp29,86 miliar dari Rp193,04 miliar pada tahun buku 2024.
Aset dan Liabilitas Bertambah
Hingga akhir 2025, total aset PT Jaya Agra Wattie meningkat menjadi Rp3,96 triliun dari Rp3,86 triliun pada akhir 2024. Sementara itu, total liabilitas turut naik menjadi Rp2,60 triliun dibandingkan Rp2,50 triliun pada periode sebelumnya.
Tantangan Produktivitas Perkebunan
Manajemen mengungkapkan masih terdapat sejumlah tantangan operasional yang memengaruhi kinerja produksi. Beberapa wilayah perkebunan kelapa sawit mengalami cuaca ekstrem sehingga berdampak terhadap produktivitas.
Selain itu, produktivitas komoditas karet, khususnya di perkebunan Jawa Tengah, menurun akibat adanya perubahan status tanaman menghasilkan (TM) menjadi tanaman belum menghasilkan (TBM).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, perseroan terus mengoptimalkan produktivitas kebun yang dimiliki maupun yang berada di bawah pengelolaan anak usaha. Perseroan juga meyakini optimalisasi tanaman menghasilkan yang tersedia pada masa mendatang akan mendukung peningkatan produksi serta memperkuat kinerja keuangan PT Jaya Agra Wattie pada periode berikutnya.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











Tidak ada komentar:
Posting Komentar