Pertanyaan mengenai siapa yang berhak menentukan benar dan salah terus menjadi perdebatan dalam kehidupan manusia. Di tengah perkembangan pemikiran modern, sebagian kalangan menjadikan akal, tradisi, suara mayoritas, atau perubahan zaman sebagai tolok ukur kebenaran. Namun, pandangan Islam tentang standar kebenaran menempatkan wahyu sebagai sumber utama yang menjadi rujukan dalam menilai berbagai persoalan kehidupan.
Dalam ajaran Islam, akal dan ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Akan tetapi, keduanya tidak diposisikan sebagai pencipta kebenaran. Akal berfungsi memahami dan menerapkan petunjuk yang berasal dari Allah sebagai sumber pengetahuan yang paling sempurna.
Al-Qur'an Menegaskan Kebenaran Bersifat Tetap
Al-Qur'an menjelaskan bahwa kebenaran tidak berubah mengikuti kepentingan atau keinginan manusia. Dalam QS. Yūnus ayat 32, Allah berfirman, "Maka tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan."
Sementara itu, QS. Al-Mu’minūn ayat 71 menegaskan bahwa apabila kebenaran mengikuti hawa nafsu manusia, maka kehidupan akan kehilangan keteraturan. Ayat tersebut menunjukkan pentingnya standar yang tetap dalam menentukan nilai, hukum, dan moralitas.
Selain itu, QS. Al-An‘ām ayat 117 menegaskan bahwa Allah adalah pihak yang paling mengetahui siapa yang berada di jalan petunjuk dan siapa yang tersesat. Karena itu, petunjuk Ilahi dipandang sebagai rujukan paling otoritatif dalam menentukan kebenaran.
Petunjuk Rasulullah sebagai Landasan
Pandangan Islam tentang standar kebenaran juga merujuk pada sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah dan petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad ﷺ." (HR Muslim).
Hadis tersebut memperkuat posisi Al-Qur'an dan sunnah sebagai fondasi utama dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.
Tantangan Relativisme Modern
Dalam filsafat modern berkembang pandangan relativisme yang menyatakan bahwa kebenaran dapat berbeda menurut individu, budaya, atau kondisi sosial. Meski bertujuan menghargai keberagaman, konsep ini memunculkan pertanyaan mengenai standar yang digunakan untuk menilai keadilan, moralitas, dan etika.
Islam menawarkan pendekatan berbeda dengan menempatkan wahyu sebagai ukuran yang tetap. Akal dan ilmu tetap digunakan secara maksimal, namun berfungsi untuk memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai yang telah ditetapkan.
Pada akhirnya, Islam memandang bahwa akal merupakan anugerah yang mulia dan ilmu adalah sarana penting bagi kemajuan manusia. Namun, keduanya memerlukan pedoman yang jelas agar tidak terombang-ambing oleh perubahan kepentingan dan tekanan sosial. Karena itu, wahyu tetap menjadi standar utama dalam menentukan kebenaran menurut ajaran Islam.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar