PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) meraih pendapatan dan laba meningkat sepanjang tahun buku 2025. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp1,591 triliun atau naik 37,9 persen dibandingkan Rp1,154 triliun pada 2024. Peningkatan tersebut turut diikuti pertumbuhan laba tahun berjalan menjadi Rp320,08 miliar dari Rp215,04 miliar pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama PBSA, Vincentius Susanto, memaparkan capaian tersebut dalam Public Expose Tahunan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya volume proyek, kinerja operasional yang solid, serta kontribusi pendapatan nonoperasional yang memperkuat hasil akhir perusahaan.
Profitabilitas Meningkat Seiring Efisiensi Operasional
Selain pendapatan, PBSA juga mencatat laba usaha sebesar Rp243,02 miliar atau tumbuh 26,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba sebelum beban pajak final dan pajak penghasilan mencapai Rp360,91 miliar, meningkat 49,2 persen.
Kinerja tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional meski skala usaha terus berkembang. Dari sisi rasio keuangan, Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 22,51 persen dari 19,25 persen pada 2024. Adapun Return on Equity (ROE) naik menjadi 34,45 persen dari sebelumnya 27,73 persen.
Fokus Perkuat Bisnis Inti pada 2026
Memasuki 2026, PBSA tetap memusatkan strategi pada bisnis inti konstruksi dan infrastruktur. Perseroan akan memperkuat efisiensi operasional, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, menerapkan pengelolaan risiko secara terukur, serta menjaga likuiditas melalui pengelolaan arus kas yang prudent.
Perusahaan juga akan menjalankan ekspansi proyek secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan usaha.
Target Pendapatan Rp1,7 Triliun
Untuk tahun 2026, PBSA menargetkan pendapatan sekitar Rp1,7 triliun dengan laba usaha sebelum pajak sekitar Rp260 miliar. Target tersebut didukung peningkatan kualitas eksekusi proyek, penguatan pengelolaan modal kerja, serta optimalisasi peluang proyek pada sektor engineering, procurement and construction (EPC) dan industri pengolahan berbasis sumber daya alam.
Manajemen menilai prospek bisnis tetap positif, terutama didorong kebutuhan investasi pada industri kelapa sawit beserta turunannya, serta peluang proyek EPC dan mechanical, electrical, and plumbing (MEP). Di tengah dinamika ekonomi, perusahaan akan tetap selektif dalam memperoleh proyek baru dengan mengutamakan margin yang sehat, risiko yang terukur, serta penciptaan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto











Tidak ada komentar:
Posting Komentar