PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) membukukan pendapatan sebesar Rp776,51 miliar pada kuartal pertama 2026. Realisasi tersebut turun 8,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp848,93 miliar. Meski demikian, perseroan tetap mampu menjaga profitabilitas dengan membukukan laba bersih sebesar Rp41,33 miliar hingga akhir Maret 2026.
Direktur Utama PT Jhonlin Agro Raya Tbk, Indra Irawan, menyampaikan capaian tersebut dalam Public Expose di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Menurutnya, kinerja perusahaan masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika industri agribisnis dan biodiesel.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp52,99 miliar, sementara EBITDA mencapai Rp128,63 miliar. Adapun laba bruto mencapai Rp142,82 miliar dan laba usaha sebesar Rp77,43 miliar.
Profitabilitas Tetap Terjaga di Tengah Penurunan Pendapatan
Meskipun penjualan mengalami koreksi, JARR dinilai berhasil menjaga efisiensi operasional. Kemampuan perusahaan mempertahankan laba bersih positif menunjukkan bahwa strategi pengelolaan biaya dan operasional berjalan efektif.
Selain itu, sejumlah indikator keuangan menunjukkan kondisi yang semakin sehat. Current ratio tercatat meningkat, mencerminkan kemampuan perusahaan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Gross profit margin juga mengalami perbaikan, yang menandakan meningkatnya efisiensi dalam kegiatan operasional.
Perseroan sebelumnya juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 11 persen sepanjang 2025. Di sisi lain, rasio utang terhadap aset maupun ekuitas terus menurun, mengindikasikan ketergantungan terhadap pembiayaan utang yang semakin rendah.
Struktur Keuangan dan Tantangan Bisnis
Per akhir Maret 2026, total aset JARR tercatat sebesar Rp3,96 triliun, sementara total liabilitas turun menjadi Rp2 triliun dari Rp2,10 triliun pada akhir 2025. Di saat yang sama, total ekuitas meningkat menjadi Rp1,96 triliun dari sebelumnya Rp1,92 triliun.
Meski fundamental perusahaan tetap kuat, manajemen mengakui sejumlah tantangan masih membayangi. Di antaranya fluktuasi harga bahan baku TBS dan CPO, perubahan regulasi terkait program biodiesel B35 dan B40, kebijakan levy tax atas produk turunan sawit, serta kewajiban pemenuhan ketentuan free float Bursa Efek Indonesia.
Untuk memenuhi ketentuan free float sebesar 12,5 persen pada 2027 dan 15 persen pada 2028, perusahaan berencana melakukan divestasi bertahap di pasar reguler maupun private placement kepada investor strategis nonafiliasi.
Strategi Meningkatkan Laba pada 2026
Memasuki 2026, JARR menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan laba bersih. Perseroan menargetkan peningkatan utilisasi pabrik biodiesel hingga 60–70 persen guna mendorong volume produksi dan efisiensi operasional.
Selain itu, perusahaan akan meningkatkan kontribusi pasokan CPO internal dari sekitar 17 persen menjadi 20–25 persen dari total kebutuhan bahan baku. Strategi tersebut diharapkan mampu menekan biaya pembelian CPO eksternal dan memperkuat margin usaha.
JARR juga akan memperluas penjualan produk minyak goreng di wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, serta mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumber daya perusahaan guna meningkatkan produktivitas dan profitabilitas secara berkelanjutan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar