Transformasi digital rumah sakit berbasis AI semakin menjadi agenda penting dalam penguatan layanan kesehatan nasional. Menjawab kebutuhan tersebut, Yorindo Communication bersama APKOMINDO, APTIKNAS, dan BSSN RI menggelar Workshop & Festival AI Driven Secure & Efficient bertema "Engineering Digital Transformation Blueprint in Hospital" di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, 10 Juni 2026.
Kegiatan yang menjadi kota ketujuh dalam rangkaian Roadshow Nasional AI Driven Secure & Efficient 2026 itu dihadiri direksi rumah sakit, pengelola teknologi informasi, tenaga kesehatan, serta pengambil kebijakan yang berperan dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi digital. Forum tersebut difokuskan pada penyusunan strategi transformasi digital yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Transformasi Digital Rumah Sakit Jadi Kebutuhan Strategis
Direktur Yorindo Communication, Yolanda Roring, mengatakan bahwa rumah sakit kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari peningkatan kualitas layanan hingga perlindungan data pasien.
"Rumah sakit menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tuntutan peningkatan kualitas layanan, efisiensi operasional, hingga perlindungan data pasien. Karena itu diperlukan blueprint transformasi digital yang mampu mengintegrasikan AI secara tepat guna, aman, dan berkelanjutan," ujarnya.
Workshop tersebut mengangkat empat pilar utama transformasi digital, yakni Smart Infrastructure, Autonomous Cyber Defense, People Intelligence, dan Autonomous Automation. Keempat aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam penerapan kecerdasan buatan di sektor kesehatan.
Infrastruktur dan Tata Kelola Jadi Fondasi
Ketua Umum APKOMINDO dan APTIKNAS, Ir. Soegiharto Santoso, S.H. atau Hoky, menegaskan bahwa transformasi digital rumah sakit harus dimulai dari infrastruktur digital yang andal.
Menurutnya, layanan kesehatan masa depan akan bergerak menuju konsep borderless healthcare melalui telemedicine, Internet of Medical Things (IoMT), hingga telesurgery. Karena itu, rumah sakit memerlukan jaringan berkinerja tinggi, integrasi data yang kuat, serta tata kelola yang sesuai regulasi.
Hoky juga mengingatkan risiko penerapan AI tanpa kesiapan infrastruktur yang memadai. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena Black Box Syndrome, yakni ketika sistem AI berjalan tanpa transparansi dan akuntabilitas yang jelas.
Ancaman Siber terhadap Sektor Kesehatan Meningkat
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN RI, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng., mengungkapkan bahwa sektor kesehatan menjadi salah satu target utama serangan siber karena menyimpan data sensitif bernilai tinggi.
Menurutnya, sepanjang tahun sebelumnya tercatat sekitar 351,7 juta anomali trafik siber, dengan lebih dari 66 persen didominasi aktivitas malware. Karena itu, penguatan keamanan siber harus berjalan seiring dengan transformasi digital rumah sakit.
"Transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan keamanan siber. Rekam medis elektronik, data pasien, dan data operasional rumah sakit harus dilindungi melalui tata kelola keamanan yang baik," tegasnya.
Selain seminar dan diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan Festival 12 Solusi AI untuk Rumah Sakit yang menampilkan beragam inovasi, mulai dari AI Customer Service berbasis voicebot, analitik data, AI Vision untuk pengelolaan limbah medis, hingga solusi keamanan siber dan otomasi proses bisnis.
Rangkaian Roadshow Nasional AI Driven Secure & Efficient 2026 akan ditutup di Balikpapan pada 25 Juni 2026. Penyelenggara berharap kolaborasi antara pemerintah, asosiasi teknologi, dan pelaku industri dapat mempercepat transformasi digital rumah sakit berbasis AI yang aman, efisien, dan berdaya saing global.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar