Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam perdagangan rumput laut dunia. Namun, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku bagi negara lain.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, mengatakan permintaan global terhadap produk turunan rumput laut terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi hijau, industri pangan, farmasi, kosmetik, hingga pertanian berkelanjutan.
"Rumput laut mendukung pengurangan emisi karbon, ekonomi sirkular, dan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat pembudi daya," ujar Erwin dalam talkshow Mendulang Emas Hijau dari Lautan Indonesia di Tangerang, Selasa (16/6/2026).
Produksi dan Perdagangan Global Terus Tumbuh
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan produksi rumput laut global mencapai 34,8 juta ton pada 2022 dengan nilai perdagangan sekitar 2,9 miliar dolar AS. Sementara nilai perdagangan dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 3,2 miliar dolar AS dengan tren pertumbuhan rata-rata 5,6 persen sejak 2016.
Menurut Erwin, sekitar 50 persen perdagangan global masih didominasi rumput laut kering sebagai bahan baku industri. Adapun produk olahan berupa karaginan menyumbang sekitar 40 persen, sedangkan agar mencapai 10 persen.
Indonesia Masih Dominan Ekspor Bahan Baku
Indonesia saat ini menempati posisi ketiga eksportir rumput laut dunia setelah Tiongkok dan Korea Selatan. Hingga April 2026, nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai 94,30 juta dolar AS atau tumbuh 3,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, sebagian besar ekspor ke Tiongkok masih berupa rumput laut kering. Kondisi ini membuat Indonesia belum menikmati nilai tambah optimal dari industri pengolahan.
"Seharusnya kita menguasai ekspor produk turunan rumput laut, bukan hanya bahan bakunya," kata Erwin.
Karaginan, Agar, dan Biostimulan Jadi Pasar Menjanjikan
Erwin memproyeksikan pasar karaginan global meningkat dari 1,1 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 1,9 miliar dolar AS pada 2034 dengan pertumbuhan sekitar 6 persen. Permintaan terbesar berasal dari industri makanan dan minuman, disusul farmasi serta kosmetik.
Sementara pasar agar diperkirakan tumbuh 7,2 persen hingga 2034. Adapun sektor biostimulan berbasis rumput laut diprediksi mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 10,5 persen, dengan nilai pasar meningkat hingga 3 miliar dolar AS.
Menurutnya, tren pertanian organik, kebutuhan produk ramah lingkungan, serta berkembangnya industri kesehatan dan kecantikan akan menjadi pendorong utama permintaan produk turunan rumput laut dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan potensi sumber daya yang besar dan pasar global yang terus berkembang, hilirisasi rumput laut dinilai menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperbesar kontribusi sektor kelautan terhadap perekonomian nasional.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar