Aktivis dan jurnalis Indonesia Wilson Lalengke diwawancarai Televisi Rusia saat iftar bersama Dubes Rusia Sergei Tolchenov di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Di tengah suasana Ramadhan, pernyataan Wilson Lalengke tentang hubungan Indonesia–Rusia dan konflik global menarik perhatian dalam forum diplomatik yang tak biasa di Jakarta.
Forum tersebut mempertemukan diplomat, jurnalis, serta sejumlah tokoh masyarakat dalam suasana Ramadhan yang hangat namun tetap sarat muatan diplomatik. Percakapan berlangsung santai, tetapi isu yang dibahas menyentuh dinamika hubungan internasional.
Dalam wawancara itu, Lalengke menanggapi pidato Dubes Rusia mengenai relasi bilateral Indonesia–Rusia. Ia menilai kedua negara memiliki ruang luas untuk memperkuat kerja sama, terutama di bidang diplomasi, kebudayaan, dan komunikasi publik.
Menurut dia, hubungan yang dilandasi prinsip saling menghormati dan kesetaraan menjadi fondasi penting dalam membangun tata dunia yang lebih adil. Dialog terbuka, katanya, perlu terus dijaga agar kerja sama tidak berhenti pada tataran formal.
Sorotan pada Konflik Rusia–Ukraina
Wilson juga menyampaikan pandangannya terkait konflik Rusia–Ukraina. Ia menyebut Rusia berada dalam situasi sulit karena menghadapi tekanan kolektif dari sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat.
“Dunia ini tidak adil ketika satu negara dipaksa menghadapi tekanan besar secara sendirian. Rusia sedang menghadapi ketidakadilan itu karena digempur kekuatan Barat secara bersekutu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut, menurutnya, merefleksikan ketimpangan dalam sistem internasional saat ini. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih berimbang agar perdamaian tidak sekadar menjadi wacana, melainkan hasil dari proses dialog yang setara.
Diplomasi Ramadhan dan Kebijakan terhadap Islam
Dalam konteks Islam, Wilson mengapresiasi kebijakan Rusia yang disebut menghormati keragaman agama.
Ia menyoroti pernyataan Dubes bahwa Islam merupakan agama terbesar kedua di Rusia, sebuah pengakuan yang dinilainya penting dalam konteks hubungan lintas budaya.
Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia itu juga menilai langkah Kedutaan Rusia menggelar iftar bersama jurnalis sebagai inisiatif yang jarang dilakukan perwakilan diplomatik lain di Jakarta.
“Ini langkah yang menunjukkan penghormatan terhadap Islam sekaligus keterbukaan berdialog dengan komunitas Muslim,” katanya.
Bagi Wilson, acara tersebut bukan sekadar seremoni Ramadhan. Ia melihatnya sebagai simbol diplomasi budaya dan dialog lintas agama yang bisa memperkuat solidaritas global.
Ia menegaskan, dunia yang lebih adil hanya dapat dicapai melalui komunikasi terbuka, kerja sama setara, serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Momentum seperti ini, katanya, layak didukung untuk menjaga ruang dialog di tengah ketegangan global.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar