BEM PTMA Indonesia menyatakan dukungan terhadap kebijakan anggaran pendidikan 2026 pemerintah di Jakarta, Senin (23/02), karena dinilai tetap prioritas meski ada program nasional baru.
Anggaran pendidikan 2026 dipastikan tidak dipangkas untuk program lain, langkah yang dinilai mahasiswa sebagai sinyal kuat komitmen negara pada sekolah dan guru.
Kebijakan Anggaran Dinilai Progresif
Koordinator Presidium Nasional Yogi Syahputra Alidrus menilai kebijakan anggaran pendidikan pemerintah menunjukkan arah progresif. Menurutnya, sektor pendidikan dasar dan menengah tetap ditempatkan sebagai prioritas pembangunan manusia.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti, yang memastikan dana pendidikan tidak dikurangi untuk pembiayaan program lain.
Pemerintah, kata dia, justru memperbesar alokasi untuk sejumlah program strategis, mulai dari revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, bantuan siswa, hingga peningkatan kesejahteraan guru.
Data anggaran yang tercantum dalam APBN menunjukkan nilai lebih dari Rp14 triliun dialokasikan bagi lebih dari 11.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Menurut Yogi, angka tersebut menegaskan bahwa sektor pendidikan masih menjadi fondasi pembangunan nasional jangka panjang.
Catatan Pengawasan Daerah
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar kerap muncul di tingkat pemerintah daerah. Persoalan klasik seperti penyalahgunaan kewenangan hingga lemahnya pengawasan masih ditemukan.
Ia mencontohkan kasus di Nusa Tenggara Timur yang menyoroti lemahnya perhatian terhadap kebutuhan dasar siswa. Peristiwa itu, katanya, harus menjadi alarm bagi penguatan kontrol kebijakan pendidikan.
Selain anggaran, BEM PTMA juga menilai langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI dalam program digitalisasi sekolah sebagai kebijakan penting.
Bantuan perangkat panel interaktif dinilai dapat mendorong pembelajaran kolaboratif. Teknologi tersebut memungkinkan guru menulis, menggambar, dan mengakses sumber belajar digital secara langsung di kelas.
Yogi menegaskan, pendidikan dasar dan menengah tetap menjadi “jantung peradaban daerah” karena membentuk generasi masa depan. Ia menilai keberlanjutan kebijakan anggaran menjadi kunci agar manfaatnya terasa merata hingga wilayah terpencil.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar