Gus Miftah menggelar tausiah dan buka puasa bersama pekerja 1001 Hotel dan Colosseum Jakarta, Selasa (24/2), di ruang hiburan malam ibu kota.
Di tempat yang biasa dipenuhi gemerlap malam, Gus Miftah memilih berbicara tentang harapan, ampunan, dan proses berubah—tanpa menghakimi.
Nama Gus Miftah kembali hadir di ruang yang selama ini identik dengan musik keras dan lampu sorot. Selasa malam itu, suasana berbeda terasa di 1001 Hotel dan Colosseum Jakarta.
Colosseum dikenal sebagai salah satu klub malam terbesar di Indonesia, bahkan pernah masuk daftar Top 100 Clubs dunia. Bagi sebagian orang, lokasi itu mungkin tak lazim untuk tausiah.
Namun bagi Gus Miftah, justru di ruang seperti inilah dakwah perlu hadir.
Ia menyebut pendekatan itu sebagai kembali ke “DNA dakwah” yang membesarkan namanya—mendatangi mereka yang jarang disentuh ceramah keagamaan arus utama.
Dalam tausiahnya, ia menyampaikan pesan yang konsisten ia gaungkan selama bertahun-tahun: agama tidak datang untuk menghakimi.
“Allah tidak memanggil manusia dengan sebutan ‘wahai pendosa’, tetapi ‘wahai hamba-Ku’,” ujarnya di hadapan para pekerja hiburan malam.
Pesan itu ditujukan agar mereka tidak merasa terasing dari rahmat Tuhan.
Ia mengulang kisah ketika pernah mendatangi lokalisasi dan memberi sejumlah uang agar para pekerja berhenti bekerja satu malam. Baginya, berhenti dari kemaksiatan walau sesaat tetap sebuah capaian.
“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” katanya.
Ujian, Kritik, dan Pro-Kontra
Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah juga menyinggung masa ketika dirinya dihujani kritik. Kehadirannya di klub malam kerap memicu perdebatan publik.
Sebagian menilai langkah itu progresif, sebagian lain menyebutnya kontroversial.
Ia mengutip hadis tentang ujian bagi hamba yang dicintai Tuhan. Menurutnya, kritik dan cobaan adalah bagian dari perjalanan.
“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” ucapnya.
Ia bahkan mengaku, setelah melewati masa sulit, jumlah orang yang bisa ia bantu berangkat umrah justru bertambah.
Publik mengenal Gus Miftah sebagai dai yang rutin berdakwah di lokalisasi, klub malam, hingga komunitas marjinal. Ia pernah mengatakan, mereka yang dianggap “ahli maksiat” sering memandang orang saleh dengan harap.
Sebaliknya, orang yang merasa saleh kadang melihat dengan stigma.
Karena itu, ia meyakini dakwah harus hadir dengan empati, bukan penghakiman.
Buka puasa bersama di Colosseum Jakarta kali ini menjadi simbol sederhana: ruang hiburan malam pun bisa berubah menjadi ruang refleksi, setidaknya untuk satu malam.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar