Boikot wisatawan China mengguncang Jepang secara dramatis, mengakibatkan pembatalan 80% pemesanan tur dan kerugian finansial yang mencapai angka fantastis.
Hanya dalam hitungan hari setelah imbauan Beijing, East Japan International Travel Service kehilangan sebagian besar kliennya. Perusahaan di Tokyo ini, melayani banyak wisatawan Tiongkok, kini merasakan dampak langsung boikot.
Ini terjadi setelah China mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, memicu gelombang pembatalan penerbangan. Hal ini dipicu pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan pada November 2025.
Yu Jinxin, Wakil Presiden perusahaan, menyatakan "Ini kerugian besar bagi kami." Saham sektor pariwisata Jepang anjlok tajam sejak peringatan itu dikeluarkan.
World Travel & Tourism Council mencatat pariwisata menyumbang 7% PDB Jepang, dengan 20% wisatawan berasal dari China. Hubungan diplomatik yang memburuk ini berdampak luas.
Nomura Research Institute memproyeksikan potensi kerugian mencapai 2,2 triliun yen (Rp220 triliun) per tahun. Ketegangan ini mengancam pertumbuhan ekonomi Jepang yang rapuh.
Lebih dari sepuluh maskapai China menawarkan pengembalian dana penuh hingga 31 Desember 2025. Sekitar 500.000 tiket diperkirakan telah dibatalkan, meninggalkan banyak impian perjalanan buyar.
Dampak boikot ini sungguh memukul hati, melumpuhkan sektor pariwisata dan menghantam ekonomi. Ini adalah pengingat betapa sensitifnya hubungan antarnegara terhadap kehidupan banyak orang.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto










Tidak ada komentar:
Posting Komentar