Pemerintah menilai berbagai persoalan pembangunan daerah, termasuk tingginya angka stunting, membutuhkan keterlibatan lebih besar dari perguruan tinggi melalui riset dan inovasi yang berdampak langsung kepada masyarakat. Karena itu, kampus didorong memperkuat kolaborasi melalui pembentukan konsorsium agar mampu menghadirkan solusi yang lebih efektif dan terukur.
Dorongan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan saat membuka Rapat Kerja LLDIKTI Wilayah X Tahun 2026 yang mengangkat tema transformasi pendidikan tinggi melalui tata kelola bermutu, riset inovatif, dan kolaborasi strategis perguruan tinggi swasta, Rabu (24/6).
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Sumatera Barat masih mencapai 24,9 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang dinilai memerlukan sinergi lintas sektor.
Kampus Diminta Tidak Berjalan Sendiri
Fauzan menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas daripada sekadar menjalankan aktivitas akademik.
“Perguruan tinggi adalah bagian dari entitas sosial. Ilmuwan dan sumber daya yang ada di dalamnya bukan hanya untuk kepentingan kampus, tetapi juga harus dikontribusikan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas,” ujar Fauzan.
Dalam kesempatan itu juga dideklarasikan Konsorsium Kampus Sehat Berdampak bertema “Bergerak Bersama, Menyehatkan Nagari, Membangun Generasi”. Inisiatif tersebut menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurut Fauzan, konsorsium memiliki fungsi ganda, yakni memperkuat kapasitas antarperguruan tinggi sekaligus memperbesar kontribusi akademik dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Perkuat Riset dan Inovasi Berdampak
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai perguruan tinggi merupakan mitra strategis pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia unggul serta menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan.
“Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga harus menjadi pusat lahirnya gagasan, riset terapan, inovasi, dan talenta unggul untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor,” kata Mahyeldi.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah X Afdalisma menegaskan pendidikan tinggi kini dituntut menghasilkan dampak nyata melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui konsorsium yang terbangun, perguruan tinggi diharapkan mampu mempercepat penyelesaian berbagai persoalan daerah berbasis ilmu pengetahuan serta memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto



































